Tampilkan postingan dengan label Teologi Awam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teologi Awam. Tampilkan semua postingan

Rut

Posted by Unknown 16.48, under ,, | No comments



Latar belakang Rut
Rut adalah seorang perempuan Moab yang diperistri oleh Mahlon, seorang dari suku Yehuda yang merantau ke daerah Moab. Berapa usia pernikahan pasangan ini tidak dijelaskan oleh penulis kitab ini. Namun yang jelas usia pernikahan mereka tidak lebih dari sepuluh tahun. Namun waktu yang tidak begitu lama itu cukup untuk membuat Rut mengenal dan percaya kepada Yahweh, Allah Israel. Pada saat itu bangsa Moab menyembah dewa Kemos yang disembah orang Moab melalui ritual liar dengan mengorbankan manusia.[1]
Nama Rut bukan nama Ibrani sehingga arti nama itu tidak dapat dipastikan. Tetapi dari susunan huruf yang membentuknya, Rut dapat berarti sahabat perempuan.[2]
Entah apa yang menjadi penyebabnya, keluarga ini kehilangan suami-suami mereka. Lalu mengapa Rut bersedia mengikuti Naomi pergi ke tempat yang belum pernah ia kenal sebelumnya? Mengapa ia mempertaruhkan masa depannya di tanah kelahirannya dan malah pergi mengikuti Naomi?

Keputusan Iman
Ketika Naomi berniat untuk kembali ke Betlehem di tanah Yehuda, Rut bersikeras untuk mengikuti kemana Naomi pergi. Sesungguhnya keputusan Rut ini cukup berani mengingat begitu besar hal yang dipertaruhkan Rut jika ia mengikuti Naomi.
Pertama, Rut harus meninggalkan semua yang dahulu dikasihinya, yaitu ibu dan keluarganya, bangsanya dan Kemos - tuhan sesembahan bangsanya.
Kedua, keputusannya untuk mengikuti Naomi adalah keputusan yang tidak masuk akal. Naomi adalah janda yang sudah jatuh miskin. Secara nalar tidak ada harapan masa depan apapun jika Rut mengikuti janda miskin seperti Naomi.
Ketiga, dengan meninggalkan ibu dan keluarganya, Rut kehilangan jaminan kepastian untuk memperoleh suami lagi. Bersama Naomi, Rut tidak melihat kemungkinan untuk bersuami lagi mengingat Naomi sudah tua dan tidak memiliki anak lelaki lagi. Tetapi dengan tetap tinggal di Moab di tengah-tengah keluarganya sebenarnya Rut ada harapan besar untuk memiliki suami lagi, meskipun suami yang akan diperolehnya nanti tentu saja adalah seorang pria bangsa Moab penyembah Kemos. Agaknya Rut tidak ingin menikah dengan seorang penyembah Kemos.
Keempat, perjalanan dari Moab ke Betlehem bukan suatu perjalanan yang mudah bagi dua orang perempuan. Pada masa itu (masa Hakim-hakim) sedang terjadi kemorosotan moral manusia, sangat mudah seseorang berbuat jahat terhadap mereka di tengah jalan. Apalagi perjalanan tersebut menempuh jarak lebih dari 80 km.
Kelima, Betlehem adalah daerah yang sebelumnya tidak dikenal Rut. Diperlukan iman yang cukup besar untuk pergi dengan ketetapan hati ke daerah yang tidak diketahuinya sebelumnya (Rut 2: 11). Iman semacam ini mengingatkan penulis kepada iman Abraham ketika ia dipanggil TUHAN ke tanah yang akan ditunjukan TUHAN.

Setia kepada Keputusan Iman walaupun ujian iman datang bertubi-tubi
Kehilangan suami adalah ujian pertama Rut bagi keputusannya untuk menyembah Yahweh, Allah Israel. Kemudian perjalanan Rut dan Naomi dari Moab ke Betlehem yang sangat jauh dan beresiko tinggi menjadi ujian kedua bagi kesetian Rut terhadap keputusan imannya itu. Seandainya iman Rut tidak kuat tentu ia sudah memilih kembali ke rumah ibunya seperti Orpa. Namun Rut tetap bertahan pada imannya sampai akhirnya mereka berdua tiba dengan selamat di Betlehem.
Sesampainya mereka di Betlehem, sambutan yang mereka terima bukan sambutan hangat penuh sukacita dari penduduk Betlehem, namun sambutan keprihatinan dari penduduk Betlehem. Bukan kata-kata membangun atau sukacita yang mewarnai sambutan kepulangan mereka, tetapi kata-kata “Mara”, “yang pahit”, “tangan yang kosong”, “TUHAN menentang aku”, dan “malapetaka” yang mewarnai kepulangan mereka. (Rut 1:20-21). Semua ini menjadi pukulan ketiga bagi keputusan iman Rut.
Setelah itu Rut harus menghadapi kenyataan bahwa untuk sekedar menyambung hidup mereka, ia harus bekerja mengais sisa-sisa panen yang tertinggal. Pekerjaan itu lebih rendah dari pekerjaan hamba[3]. Tetapi Rut melakukannya dengan rajin dan tanpa keluhan walaupun sampai sejauh ini keputusan iman Rut tidak membawa Rut kepada keadaan yang lebih baik.

Upah Iman
Kesetiaan Rut terhadap imannya menghasilkan upah besar. Upah ini meliputi upah jasmani dan upah rohani.
Semenjak bertemu dengan Boas, Rut menerima kemurahan dan perlindungan dari Boas. Sehingga Rut tidak diganggu oleh pekerja laki-laki. Rut juga mampu menghidupi Naomi dari kemurahan Boas terhadapnya.
Namun upah yang paling membahagiakan Rut tentu saja adalah kesanggupan Boas untuk menebus ia dan Naomi. Semenjak itu Rut dan Naomi tidak perlu lagi mengais sisa-sisa panen di ladang Boas. Ia sekarang adalah Nyonya tanah, bukan hamba lagi.
Secara rohani, Rut juga memperoleh upahnya. Nama Rut, disebut-disebut di dalam Alkitab sebagai salah satu pahlawan iman. Ia juga memperoleh anugerah rohani menjadi nenek moyang Raja Israel, yaitu Raja Daud. Dari Raja Daud ini kemudian janji Mesianik diteruskan. Di dalam Matius 9:27 Yesus disebut juga Anak Daud.

Aplikasi
Rut memberi pelajaran iman kepada penulis bagaimana memiliki iman kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Ada harga yang harus dipertaruhkan berkaitan dengan iman kepada Tuhan.
Penulis juga belajar untuk tetap setia dan sabar meskipun keputusan iman tidak segera mendatangkan hal-hal baik dalam hidup penulis. Bahkan keputusan iman itu seakan-akan justru mendatangkan kesusahan bertubi-tubi dan cukup lama seperti yang terjadi terhadap Rut.
Tetapi penulis juga diteguhkan oleh kitab Rut ini, bahwa Tuhan adalah Allah yang memperhatikan (1:6), mengaruniakan dan memberi perlindungan (1:9), menyertai (2:4), memberi upah (2:12), memberkati (3:10) dan rela menolong (4:14).
Penulis diteguhkan oleh kitab Rut bahwa kesetiaan terhadap Allah tidak akan sia-sia. Allah telah menyediakan upah besar bagi orang yang setia kepadaNya, baik upah jasmani maupun rohani. Amin












KEPUSTAKAAN

Albright, William F. Yahweh and the Gods of Canaan. Garden City: Doubleday, 1969
Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1991
Lewis, Arthur H. Judges/Ruth. Chicago: Moody Press, 1979
Saparman. Kupasan Firman Allah: Kitab Rut. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2003
Sumber gambar: http://www.www.bible-people.info 



[1] William F. Albright, Yahweh and the Gods of Canaan, (Garden City: Doubleday, 1969), 239-240
[2] Arthur H. Lewis, Judges/Ruth, (Chicago: Moody Press, 1979), 110-111
[3] Saparman, Kupasan Firman Allah: Kitab Rut, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2003), 60

Baptisan untuk orang yang sudah mati

Posted by Unknown 00.30, under , | No comments



Sebulan belakangan ini saya berkesempatan untuk belajar Kitab Mormon dan belajar bahasa Inggris gratis dari dua orang elder (sebutan untuk misionaris dari Gereja Yesus Kristus; Orang-orang Suci Jaman Akhir).
Ketika saya belajar Kitab Mormon, dua elder pengajar saya mendorong saya untuk berdoa kepada Bapa untuk mencari jawaban mengenai kebenaran Kitab ini. Saya memang berdoa untuk sebuah jawaban dan inilah jawaban doa saya. Saya harap elder berdua bersedia membaca dan merenungkan sungguh-sungguh walaupun semua yang saya tulis sebenarnya sudah saya sampaikan secara langsung kepada elder berdua.
Saya menulis sedikit apa yang sudah diajarkan kepada saya mengenai Kitab Mormon dan mencoba memadankannya dengan ajaran Alkitab supaya kita bisa merenungkan bersama.

Saat saya untuk pertamakali dan membaca Kitab Mormon, maka hal pertama yang mucul di dalam pikiran saya bukan masalah doktrin tetapi adalah masalah sejarah: “Mengapa dalam pelajaran di sekolah mengenai sejarah dunia tidak pernah ada materi sejarah bangsa Laman, Yared dan Nefi di benua Amerika?”
Menurut Kitab Mormon, bangsa Laman, Yared dan Nefi yang adalah bangsa yang besar dengan kota-kota yang besar di benua Amerika, jadi sangat sulit dipahami bahwa sampai sekarang sedikitpun tidak ditemukan peninggalan fisik dari mereka.
Demikian juga Bahasa Ibrani yang dipakai oleh bangsa-bangsa ini juga tidak diwariskan kepada bangsa Indian, di mana kemudian mereka tinggal bersama. Sepertinya tidak pernah terjadi interaksi budaya Ibrani dengan budaya bangsa Indian.

Kemudian saya diberi tugas untuk membaca bagian-bagian lain dari kitab Mormon ditambah khotbah Penatua Ted R. Callister. Disamping itu masih ada lagi kitab-kitab lain dalam kitab Mormon salah satunya adalah kitab Ajaran dan Perjanjian (untuk selanjutnya saya sebut A&P).

Ada banyak ajaran gereja ini yang sudah cukup saya kenal sebelumnya, misalnya mengenai baptis selam, penyerahan anak, gereja yang memiliki standard moral tinggi, dan gereja yang berpusat pada keluarga. Oleh karena Alkitab juga mendukung ajaran ini, maka layaklah ajaran-ajaran tersebut diklaim sebagai fondasi Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir.

Selain ajaran-ajaran tersebut di atas, ada juga ajaran-ajaran yang sama sekali belum pernah saya dengar sebelumnya. Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir menyatakan bahwa gereja ini memiliki struktur organisasi gereja dan ajaran yang  paling tepat sesuai dengan kehendak Yesus Kristus (A&P 1:30). Sebagai blueprint (dasar Alkitabiah struktur organisasi dan ajaran gereja) dari Gereja ini, penatua Callister menggunakan Surat Paulus kepada jemaat di Efesus 2:20:

“dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru” (ITB Version)

“Having been built on the foundation of the apostles and prophets, Jesus Christ Himself being the chief cornerstone” (NKJ Version)

Saya menyertakan terjemahan New King James Version karena Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir hanya mengakui Alkitab Versi Raja Yakubus tersebut, itupun dengan koreksi dan penambahan ayat versi Nabi Joseph Smith.

Berdasarkan ayat tersebut di atas, Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir menggunakan kuorum 12 rasul dalam struktur organisasi gerejanya.

Tetapi Alkitab bersaksi bahwa jumlah rasul Kristus pada masa gereja mula-mula bukan 12 orang, karena selain 12 rasul Kristus yang telah dipilih ternyata ada 1 rasul lagi yang dipilih secara langsung juga oleh Yesus Kristus di tengah jalan dari Yerusalem menuju Damsyik setelah penyaliban dan kebangkitan-Nya (Kisah Para Rasul 9, Roma 1:1) dan rasul ini juga telah menulis dasar-dasar iman Kristen lebih banyak dari rasul-rasul lain.
Sekarang kita mendapatkan fakta Alkitab bahwa paling sedikit jumlah rasul ada 13 orang bukan?
Keduabelas rasul sesungguhnya memiliki tugas yang sedikit berbeda dengan rasul ke-13.
Tugas utama keduabelas rasul adalah menginjili dua belas suku Israel (Mat.4:19) dan menghakimi dua belas suku Israel nanti (Mat.19:28).
Sedangkan tugas utama rasul ke-13 adalah menginjili bangsa-bangsa selain Israel, Raja-raja termasuk Israel juga (KPR 9:15)
Yesus Kristus tidak bermaksud membentuk kourum 12 sebagai sebuah struktur organisasi gereja.

Mungkin kita bisa menggangap perbedaan jumlah rasul antara Alkitab dan gereja ini tidak penting, yang terpenting bahwa ajaran para Rasul lah yang menjadi fondasi gereja.
Karena sangat mungkin maksud Efesus 2:20 untuk membangun sebuah gereja yang sesuai dengan blueprint Alkitab adalah dengan mematuhi setiap ajaran para rasul dan nabi sebagai fondasi gereja Kristus. Baiklah sekarang kita mulai membicarakan ajaran yang lain dari Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir.

Hal yang diajarkan oleh Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir adalah salah satunya adalah pembaptisan bagi orang mati. Artinya ajaran ini mengajarkan orang hidup yang dibaptis bagi orang mati yang dahulu di masa hidupnya oleh karena sesuatu hal belum sempat dibaptis. Ajaran ini diambil dari salah satu Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 15: 29)

“Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” (ITB Version, huruf miring ditambahkan)

“ Otherwise, what will they do who are baptized for the dead, if the dead do not arise at all? Why then are they baptized for the dead?” (NKJ Version)

Jika kita baca secara teliti maka kita akan mendapatkan bahwa Surat tersebut dilatarbelakangi oleh ketidakpercayaan sebagian jemaat Korintus akan adanya  kebangkitan orang mati. Untuk meyakinkan Jemaat Korintus maka Paulus memberi contoh 2 sikap kebiasaan dari orang-orang yang percaya adanya kebangkitan orang mati. Yaitu kebiasaan orang lain dan kebiasaan Rasul Paulus sendiri.

Kebiasan orang-orang di Korintus saat itu ada yang membaptis orang hidup untuk mewakili orang yang sudah mati agar di hari kebangkitan nanti orang mati tersebut memiliki kesempatan untuk diselamatkan.
Agak aneh memang orang-orang Korintus ini, di satu sisi mereka tidak percaya adanya kebangkitan orang mati, di sisi lain mereka membaptis orang hidup mewakili orang mati untuk menyelamatkan orang yang mati tersebut pada hari kebangkitan nanti.
Rasul Paulus sendiri jelas tidak melakukan pembaptisan orang mati. Seandainya Rasul Paulus juga melakukan kebiasaan ini maka semestinya ayat tersebut akan berbunyi sebagai berikut:

“Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan kami yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa kami mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” (ITB Version, huruf miring ditambahkan)

“ Otherwise, what will we do who are baptized for the dead, if the dead do not arise at all? Why then are we baptized for the dead?” (NKJ Version)

Tetapi pada kenyataannya bunyi ayat tersebut tidak seperti itu tetapi seperti ini:

“Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” (ITB Version, huruf miring ditambahkan)

“ Otherwise, what will they do who are baptized for the dead, if the dead do not arise at all? Why then are they baptized for the dead?” (NKJ Version)

Jadi Rasul Paulus menulis ayat tersebut  menggunakan kata ganti subyek they (mereka) bukan we (kami). Sehingga Paulus sendiri tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang melakukan kebiasan membaptis orang hidup bagi orang yang sudah mati.
Sekarang kita tahu kebiasaan membaptis orang hidup untuk orang mati adalah kebiasaan sebagian orang-orang Korintus, bukan pengajaran Rasul Paulus.

Sedangkan ayat 30 hingga ayat 32 menjelaskan kebiasan Paulus dan rasul yang lain yang menunjukan bahwa mereka percaya akan adanya kebangkitan orang mati.

“Dan kami juga--mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? 
Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. 
Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati". (ITB Version huruf miring ditambahkan)

“And why do we stand in jeopardy every hour? 
I affirm, by the boasting in you which I have in Christ Jesus our Lord, I die daily. 
If after the manner of men I  have fought with beasts at Ephesus, what advantage is it to me, if the dead do not rise? “Let us eat and drink; for to morrow we die.” (NKJ Version)

Jadi itulah sikap Rasul Paulus untuk menunjukan bahwa Rasul Paulus percaya akan adanya kebangkitan bagi orang mati, ia tidak khawatir terhadap kematian yang mengancamnya setiap hari oleh karena Yesus Kristus.

Jadi jika kita mempraktekan baptisan orang mati maka artinya kita sedang meneladani sebagian orang-orang Korintus membaptis orang hidup bagi orang mati dengan otoritas yang tidak jelas dari siapa. Bagaimana mungkin kita menjadikan ajaran orang yang bukan Rasul dan bukan juga Nabi sebagai fondasi gereja?

Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir juga mengajarkan kekekalan pernikahan di sorga nanti. Penatua Callister, dalam khotbahnya pada kebaktian Church Educational System di Universitas Brigham Young 12 Januari 2014, menggunakan ayat Matius 18:18 sebagai dasar argumentasi tersebut. Namun sayang sekali Penatua Callister tidak terliti dalam membaca Matius 18:18 karena ayat tersebut tidak berbicara mengenai pernikahan. Tetapi ayat tersebut berbicara mengenai cara menolong saudara kita yang jatuh dalam dosa. Yaitu jika kita mengikat saudara kita dengan cara menasehati dan menegur saudara kita yang jatuh dalam dosa saat di bumi ini maka saudara kita tidak terlepas dari Kerajaan Sorga.
Sedangkan Matius 22:30 yang berbicara mengenai pernikahan setelah kematian justru tidak dipergunakan oleh Penatua Callister. Mungkin karena Matius 22:30 bertentangan dengan A&P. 132:19-20.
Yesus mengajarkan bahwa tidak ada pernikahan saat kehidupan kekal nanti. Karena kasih yang dimiliki setiap orang akan disempurnakan seperti kasih Allah (Matius 5:46-48), melampaui kasih seorang laki-laki terhadap seorang perempuan atau seorang suami terhadap isterinya saat ini. Jadi relasi yang kita miliki nanti lebih kuat, lebih murni dan lebih indah dari relasi suami-isteri seperti yang kita kenal sekarang ini.

Setiap jemaat Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir juga diajarkan untuk hidup sehat sebagai buah gereja bagi Tuhan.
Dari sisi kesehatan ajaran ini jelas sangat baik. Tetapi apakah ajaran ini memiliki makna rohani? Maksudnya apakah jika kita tidak memiliki tubuh sehat maka kita tidak mendapat bagian dalam Kerajaan-Nya? Bagaimana dengan ajaran Paulus untuk mempersembahkan tubuh yang hidup, yang kudus sebagai senjata-senjata kebenaran? (Roma 12:1; Roma 6:13). Jelas ajaran Paulus memiliki makna utama yang rohani, artinya jika kita tidak mempersembahkan tubuh yang hidup, yang kudus sebagai senjata-senjata kebenaran maka kita tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Di dalam Matius 15:1-20 Yesus  mengkritik ajaran orang Farisi yang mengajarkan pembasuhan tangan sebelum makan. Ajaran ini memang bagus dari sisi kesehatan, namun ajaran ini adalah ajaran manusia yang diajarkan sebagai doktrin oleh orang Farisi dan Ahli Taurat. Yesus Kristus mengkoreksi bahwa ajaran ini tidak memiliki makna rohani apapun (Mat.15:20).

Ada banyak ajaran-ajaran Gereja Yesus Kristus; Orang-orang Suci Jaman Akhir  yang masih menjadi ganjalan bagi saya, misal: bahwa Bapa memiliki daging dan tulang, bukan semata roh saja, hal ini bertentangan dengan Yoh.4:24; 2 Kor.3:17, sehingga dari hubungan Allah Bapa dan Maria maka lahirlah Yesus Kristus. Hal ini bertentangan dengan Alkitab bahwa Maria mengandung oleh karena kuasa Roh Kudus. Mereka juga mengajarkan bahwa Yesus adalah Yahweh pada masa PL. Paling tidak semua itu dianggap kebenaran oleh Gereja Yesus Kristus:Orang-orang Suci Jaman Akhir.

Maka seandainya Alkitab adalah kebenaran Allah (Yoh.17:17) dan seandainya A&P adalah juga kebenaran Allah (A&P.19:26) maka bagaimana mungkin ada dua kebenaran yang bertentangan? Harus ada salah satu yang ‘mengalah’ bukan?

Lalu pertanyaan lain yang timbul adalah: “Apakah konsekuensi bagi orang yang melakukan ajaran manusia seakan-akan melakukan perintah Yesus Kristus namun di saat yang sama justru mengabaikan ajaran Yesus Kristus?” Apakah mereka kehilangan keselamatan mereka?
Matius 15:9 menjelaskan kepada kita hal itu sebagai berikut:

“Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (ITB Version)

“And in vain they worship Me, teaching as doctrines the commandments of men.” (NKJ Version)

Jika mengajarkan perintah manusia sebagai doktrin maka konsekuensinya adalah ibadah kita sia-sia dihadapan Yesus Kristus. Ibadah kita dianggap tidak pernah ada. Dengan kata lain kita masuk dalam golongan orang-orang yang tidak pernah beribadah kepada Yesus Kristus. Orang-orang yang tidak beribadah kepada Yesus Kristus bagaimana mungkin memperoleh bagian dalam Kerajaan-Nya?



Sumber gambar: tillhecomes.org

Kejadian 4:1-16 : Dosa Manusia Jilid II - Persembahan Kain

Posted by Unknown 11.16, under , | No comments

Setelah kemarin kita membaca Kejadian pasal 1-3 tentang Asal Dosa Manusia, Restorasi dan Keselamatan manusia, narasi teks Alkitab Kejadian 4 ini dimulai dengan kelahiran Kain, anak Adam yang pertama. Hawa yang agaknya masih berduka akan kesalahan mereka yang mengakibatkan mereka dihalau dari Taman Eden, menyangka bahwa Kain inilah keturunannya yang dimaksud TUHAN yang akan meremukan Ular dan keturunannya. Hal ini nampak dari seruan imannya sesaat setelah melahirkan Kain: “Aku telah mendapatkan seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.”
Dia menyangka persoalan dosa akan segera selesai sampai di sini. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Hawa tidak mengerti bahwa Kain mewarisi tubuh jasmaninya yang sudah semakin merosot kualitasnya terhadap kuasa dosa dibanding awal pertama TUHAN menciptakan mereka dulu. Pertanyaannya; lalu mengapa Habel bisa lebih mengasihi TUHAN dari pada Kain? Bukankah Habel juga sama memiliki tubuh jasmani yang telah semakin lemah terhadap kuasa dosa?
Jawabannya adalah bahwa di sini kita sudah mulai diajar prinsip Anugerah. Seperti halnya TUHAN telah memilih Yakub dari pada Esau sejak dalam kandungan, yaitu sebelum keduanya melakukan satu perbuatan apapun, baik perbuatan buruk ataupun perbuatan baik. Supaya kita belajar mengerti bahwa kemampuan kita untuk tidak berbuat dosa adalah berasal dari anugerah TUHAN (1 Yoh.3:9).
Ok, setelah tadi kita berbelok sedikit ke topik Anugerah, sekarang kita lanjutkan membaca narasi Kejadian 4 berikutnya.
Alkitab mencatat, karena Kain seorang petani maka ia mempersembahkan sebagian hasil tanah itu kepada TUHAN. Tidak ada keterangan lebih detail mengenai persembahan Kain, baik kualitas maupun kuantitasnya. Barangkali tidak buruk tapi jelas tidak istemewa, biasa-biasa saja.
Sedangkan Habel sebagai seorang peternak, ia mempersembahkan juga persembahan kepada TUHAN. Bedanya Alkitab memberi keterangan lebih detail terhadap persembahan Habel, yaitu”... persembahan anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya”. Dengan demikian gambaran kuantitas dan kualitas persembahan Habel nampak dari keterangan tersebut. Secara kuantitas, Habel mempersembahkan kambing domba yang tergolong anak sulung. Jadi seandainya Habel memiliki 20 ekor kambing domba dengan asumsi 5 jantan 15 betina, maka secara kuantitas Habel akan mempersembahkan 15 ekor anak sulung dari setiap betina yang melahirkan tersebut sekaligus atau periodik.
Namun Habel juga masih memiliki syarat kualitas bagi persembahannya yaitu harus pertama dilahirkan (sulung) kambing domba dan yang gemuk. Jadi jika ia memiliki anak domba yang gemuk tapi bukan sulung jelas tidak masuk kriteria, apalagi jika anak kambing yang kurus dan lahir terakhir. Dengan demikian kita belajar bahwa persembahan Habel bukan persembahan yang biasa-biasa saja, namun persembahan yang timbul dari hati yang megasihi TUHAN.
Narasi berikutnya menceritakan bagaimana TUHAN respek terhadap Habel dan respek terhadap persembahannya. Namun TUHAN tidak respek terhadap Kain dan persembahannya.
Reaksi spontan Kain melihat hal itu adalah ia menjadi marah (hatinya sangat panas – Kej.4:5), dalam terjemahan King James, Kain menjadi murka.
Sebetulnya saya tidak terlalu kaget atau heran apalagi mencibir dengan reaksi Kain tersebut. Soalnya saya juga sering mengalaminya.. hehe...
Sangat sering ketika orang lain tidak respek dengan saya atau hasil kerja saya, reaksi spontan saya adalah ‘murka’ terhadap orang itu, bukannya berbuat baik dengan cara merenung dan berbenah diri. Karena lebih gampang bagi diri saya untuk murka dari pada berbuat baik. Soalnya saya dengan Kain sama-sama mewarisi tubuh jasmani yang lemah terhadap kuasa dosa, bedanya saya memiliki pengharapan dalam Kristus yang di dalam daging telah menang terhadap kuasa dosa.
Melihat hal tersebut TUHAN mengingatkan Kain mengenai kecenderungan hatinya yang lebih suka untuk tidak berbuat baik dari pada berbuat baik sekaligus TUHAN mengingatkan Kain akan kewajiban Kain untuk mengalahkan kuasa dosa.
Harapan TUHAN supaya Kain bertobat ternyata tidak mendapat reaksi positif dari Kain, malah sebaliknya Kain semakin mengeraskan hatinya untuk memuaskan tuntutan hatinya yang marah kepada Habel sehingga terjadilah kejahatan pembunuhan manusia untuk pertama kalinya.



Darah sudah ditumpahkan, Kain hutang darah kepada TUHAN.
Kalau dahulu pada pasal 3 saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa TUHAN hanya mengutuk Ular dan tanah atas pelanggaran Adam dan Hawa, maka sekarang Kain –lah yang dikutuk TUHAN, jauh terbuang dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adiknya (Kej. 4:11). (lihat juga, ayat 10 : .. darah adikmu berteriak-teriak dari tanah). Penulis Kitab Kejadian mempersonafikasikan tanah dengan tujuan seakan-akan tanah memiliki andil dalam kejahatan ini.
Tanah yang sudah dikutuk dan diusahakan oleh seorang yang telah dikutuk tidak akan menghasilkan hasil yang bagus lagi. Sebagai seorang petani Kain kehilangan segalanya, yaitu penghidupannya yang dicintainya lebih daripada TUHAN. Ditambah lagi Kain tidak diterima dan dibenci komunitas yang ada pada saat itu, yaitu populasi keluarga besar Adam.
TUHAN tidak ingin Kain mati karena dibunuh oleh Adam atau keluarga besarnya yang lain dalam keadaan berdosa. TUHAN masih memberi kesempatan kepada Kain untuk bertobat, oleh karena itu TUHAN menaruh tanda supaya jangan dibunuh. TUHAN masih mengasihi Kain dan TUHAN ingin dosa pembunuhan ini yang pertama dan terakhir. Itulah sebabnya TUHAN memberikan ancaman sanksi balasan tujuh kali lipat kepada orang lain yang hendak melakukan dosa pembunuhan lagi. No more killing, no more violence!
Kita sama-sama melihat betapa TUHAN mengasihi manusia dan membenci dosa. Kita melihat tubuh jasmani kita lemah terhadap kuasa dosa oleh sebab itu bersandar kepada TUHAN dan mengasihi TUHAN lebih dari hidup ini adalah satu-satunya cara untuk memperoleh kekuatan untuk lepas dari kuasa dosa.

Kitab Kejadian Pasal 1 - 3 : Asal Dosa Manusia, Restorasi dan Keselamatan Manusia

Posted by Unknown 23.37, under , | 2 comments



Pertama-tama saya berharap kita bersama menggarisbawahi bahwa artikel ini ditulis dalam rangka untuk tidak berusaha menjawab Asal Dosa Secara Umum, namun sebatas Asal Dosa Manusia. Saya setuju pernyataan Teolog Harun Hadiwijono yang mengatakan: “Asal dan Sumber Dosa merupakan misteri Allah yang tidak mungkin manusia mampu menyingkapkan secara jelas.”

Namun artikel lebih untuk mencoba menjawab pertanyaan kaum atheis yang mengajukan pertanyaan benarkah Freewill yang menjadikan manusia/malaikat jatuh dalam dosa? Kalau benar freewill yang membuat manusia/malaikat jatuh dalam dosa, maka pada masa kekekalan di Sorga nanti di mana manusia masih memiliki freewill, besar kemungkinan manusia/malaikat bisa jatuh ke dalam dosa lagi. Artinya adalah bakalan ada lagi kejatuhan manusia/malaikat yang kedua kalinya, apakah dengan demikian Allah harus sekali lagi disalib untuk menebus ciptaanNya yang jatuh dalam dosa (lagi)?

Kedua, artikel ini diharapkan bisa menjawab persoalan mengenai perbuatan dosa adalah pilihan, di mana manusia memiliki kemampuan memilih untuk tidak berbuat dosa, seperti yang diyakini banyak saudara saya.
Akan tetapi pada kenyataannya sering kita, atau tepatnya saya, melakukan dosa tanpa sempat memilih atau berpikir, perbuatan dosa sering muncul sebagai sebuah reaksi spontan yang sulit kita, atau tepatnya saya, bendung. Namun saya percaya bahwa pertobatan adalah pilihan. Sedangkan kemampuan untuk tidak berbuat dosa berasal dari Allah (1Yoh3:9, Roma 8:13). Topik ini sebenarnya masih ada kaitannya dengan persoalan freewill  diatas.

Ketiga, dengan perspektif baru dari Kitab Kejadian pasal 1 ini kita akan bisa menjawab persoalan dalam Yohanes 3:3-5 mengenai pemahaman lahir dari atas, lahir dari air dan Roh, karena ada sebagian dari saudara kita yang beranggapan bahwa lahir dari air adalah lahir melalui rahim wanita. Pendapat ini agak aneh mengingat bukankah itu yang ada dalam pikiran Nikodemus? Jelas Yesus mengkritik pemikiran itu, mengapa kita malah mengulangi lagi kesalahan pemikiran tersebut?

Penciptaan Sorga dan Bumi: Dua lokasi utama yang dikontraskan

Kej. 1:1 LAI - Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Kata (~yIm:ßV'h;) shamayim pada ayat ini tidak menunjuk langit karena langit sebagai salah satu bagian alam semesta baru dijadikan pada ayat 8. Jadi ayat pertama ini berusaha mengkontraskan antara Sorga dan Bumi, yaitu suatu usaha untuk menjelaskan sebuah penciptaan 2 obyek / lokasi utama di jagat ciptaan Tuhan, yaitu Sorga dan Bumi. 

Sifat Bumi yang sangat kontras dengan Sorga

Kej. 1:2 LAI - Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Kemudian dijelaskan kondisi Bumi diselimuti kegelapan dan adanya suatu jurang yang sangat dalam (the deep) dimana Kegelapan berada di atasnya (and darknes was upon the face of the deep, KJV). Hanya saya lebih percaya bahwa kata ‘the deep’- KJV, atau ‘samudera’ -LAI, atau ’Abyss’ -LXX ini bukan istilah geografis karena sampai saat ini pun kita kesulitan untuk melokalisir di belahan Bumi sebelah mana tepatnya keberadaan jurang yang sangat dalam ini. Pemahaman yang lebih tepat dari kata abyss ini jika dimaksudkan oleh penulis kitab Kejadian sebagai suatu istilah telogis adalah, bahwa jurang ini merupakan lokasi where The Darknes rules (KJV - and darknes was upon the face of the deep. band. Wah.9:1).
Ada hal yang cukup menarik berkaitan dengan kondisi bumi saat itu, untuk direnungkan, bahwa LXX menterjemahkan tohu wa bohu sebagai 'unseen' atau 'invisible' dan 'unformed'  (avo,ratoj kai. avkataskeu,astoj), artinya kondisi bumi pada saat itu tidak bisa diindera oleh indera manusia, dalam hal ini mata, hal ini semakin memperkuat dugaan kita bahwa ayat 2 yang menerangkan adanya abyss dan kegelapan tidak semata-mata dalam arti harafiah namun juga memiliki sebuah makna teologis.

Temuan yang cukup menarik muncul dari Kitab Yeremia 4:23 di mana Allah dalam Firman-Nya kepada nabi Yeremia memakai sekali lagi kalimat yang sama dipakai pada Kejadian 1:2 tetapi dalam konteks yang berbeda. Konteks yang dipakai untuk menjelaskan tohu wa bohu atau diterjemahkan oleh LAI 'bumi campur-baur dan kosong... dan tidak adanya terang di Sorga-LAI, (band. Kejadian 1:2-3)' adalah pemberontakan, perzinahan rohani, ketidaktaatan, tidak ada pengertian dan pengenalan akan Allah dari umat-Nya.
Berangkat dari perspektif ini, maka kita sekarang memahami Kejadian 1:2-3 yang mencoba menerangkan kepada kita kondisi Bumi yang dipenuhi adanya pemberontakan, perzinahan rohani, ketidaktaatan, tidak ada pengertian, tidak ada pengenalan akan Allah di Bumi. Lalu siapa pelaku dari semua kejahatan di atas? Besar kemungkinan adalah malaikat-malaikat-Nya yang tidak taat dan dibuang ke Bumi (Wah.12:4, 12:9, 2Pet.2:4, Yud.1:6, Yes.4:12, Luk.10:18 )

Restorasi Bumi

Kej.1:3-4 LAI- Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.
Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.

Maka, berkebalikan dengan itu, penciptaan Terang di Kejadian 1:3 dapat dimaknai sebagai karunia Allah kepada Bumi agar Bumi memiliki ketaatan, kekudusan, pengertian dan pengenalan akan Allah yang membawa kepada hormat dan Takut akan Allah. (band.Yoh.1:5 dan 9, Yes.11:9)
Terang di sini bukan matahari atau bulan atau benda penerang lain seperti yang diyakini saudara kita dari Saksi Yehuwa, karena matahari dan benda-benda penerang di langit belum diciptakan. Mereka baru diciptakan di ayat 14.
Allah menjadikan Terang sebagai awal atau dasar dari seluruh proses restorasi Bumi. Pada hari yang keenam proses restorasi Bumi sampai pada Manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang diberi tanggung jawab untuk berkuasa atas Bumi menggantikan penguasa sebelumnya. Namun agaknya proses restorasi ini tidak bisa dilaksanakan manusia karena pada hakekatnya mereka diambil dari Bumi (band.Kej.3:19, 1 Kor.15:47), yang sejak semula telah korup oleh 'kegelapan'. Penganalogian bahan dasar yang telah korup membuat produk turunannya cenderung korup diperkuat dengan kisah kelahiran Yesus melalui Maria. Maria yang telah korup oleh dosa membuat Yesus, anak yang dilahirkannya juga memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa, terbukti Iblis dengan penuh semangat mencobai Yesus sejak di padang gurun hingga di atas kayu salib tentu saja dengan harapan Yesus jatuh dalam dosa, hanya saja manusia Yesus senatiasa bergantung kepada Allah dan Firman-Nya sehingga mampu untuk tidak berbuat dosa seumur hidupNya di Bumi.
Jadi Allah mengetahui bahwa dalam diri manusia ada unsur-unsur Bumi, yaitu kecenderungan memberontak, ketidaktaatan, tidak ada pengertian dan pengenalan akan Allah yang tertanam dalam tubuh dan pikiran mereka.
Bukti keberadaan potensi dosa yang ada dalam diri manusia sebelum manusia jatuh dalam dosa ada di dalam Kej.3:6, 

Manusia membutuhkan Allah

Kej.3:6 LAI- "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian (menjadi seperti Allah)..." 
Catatan: kata dalam kurung adalah tambahan dari penulis.


Dalam Kej.3:6 ditulis hal-hal yang ada dalam pikiran atau dalam hati manusia sebelum mereka jatuh dalam dosa; yaitu hal-hal yang menurut penatua Yohanes tidak boleh dikasihi karena berasal dari dunia dan membawa kepada kebinasaan (1Yoh.2:16) yaitu keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup. Itulah sebabnya Allah memberi Perintah/Hukum kepada Adam untuk tidak memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, supaya nyata bahwa dalam diri manusia ada kecenderungan berbuat dosa, karena menurut Paulus, Perintah/Hukum pada dasarnya bertujuan untuk menyatakan dosa (Roma 7:3), dan supaya mereka mengerti bahwa mereka butuh Allah untuk menolong mereka dari dosa dan kecenderungan dosa yang ada dalam mereka. Oleh karena itu sekarang kita mengerti mengapa Hukum Taurat dimunculkan sebelum kedatangan Kristus.
Jadi proses penyelamatan manusia oleh Allah bersifat menyeluruh yaitu meliputi kekudusan pikiran ( Roma 12:2), dan kekudusan tubuh (Roma 12:1) yang hanya dapat dikerjakan melalui Yesus Kristus (Ibr.9:14, 1Yoh.1:7, Rom.3:25),. Jadi setelah orang percaya membasuh pikirannya dari pikiran-pikiran yang berdosa dengan Firman maka pada akhirnya untuk menyempurnakan kemenangan Orang Percaya akan dosa adalah karunia Tubuh Sorgawi   (1Kor.15:40).
Tubuh Sorgawi tidak memiliki kelemahan terhadap dosa. Menurut Yesus, kehidupan di Sorga nanti, manusia (yang telah memiliki tubuh sorgawi) tidak kawin dan dikawinkan (Mat.22:30). Dari fakta tersebut muncul kesimpulan bahwa tubuh Sorgawi tidak tunduk terhadap tuntutan daging, dalam hal ini sexual desire, seperti halnya tubuh duniawi sekarang ini. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup tidak berkuasa lagi di dalam tubuh Sorgawi kita nanti, artinya tubuh Sorgawi bebas sepenuhnya dari kuasa dosa (Roma 8:23, 7:24). Jadi dapat kita bayangkan sekarang bahwa keadaan orang percaya yang hidup di Sorga nanti adalah orang-orang yang pikirannya telah bersih dari dosa oleh karena Firman dan mereka memiliki tubuh kudus yang tidak lagi memiliki keinginan daging, dengan demikian potensi untuk berbuat dosa di Sorga pada masa kekekalan sudah tidak ada lagi, meski pun kita masih memiliki freewill. 

Keselamatan dan Penyelesaian dosa dalam Injil Yohanes pasal 3:3-7

Kemudian kalau kita maju ke kitab Yohanes pasal 3:3-7, kita akan mendapatkan pemahaman yang lebih jelas jika dilihat dari perspektif Kitab Kejadian 1 ini.

Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"
Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Yoh.3:3-7 LAI

Berulang kali Alkitab menerangkan fungsi air sebagai sarana pembasuhan atau penyucian. Sejalan dengan pemikiran itu, Yesus dan Paulus sepakat bahwa manusia harus dibersihkan dan disucikan bukan hanya tubuhnya tetapi pertama dan terutama adalah pembersihan hati atau pikiran melalui Firman Allah dan Roh Kudus (Ibr.10:22, Yoh.13:10, Fil.2:5), itulah yang dimaksud dengan lahir dari air.
Kemudian setelah pikiran kita diperbarui dengan Firman menjadi sepikiran dengan Kristus, maka proses kelahiran selanjutnya adalah kelahiran Tubuh Sorgawi yaitu kelahiran yang dikerjakan oleh Roh Allah sendiri pada saat pengangkatan kelak (Roma 8:23), seperti halnya Kristus sendiri telah lahir dengan tubuh kemuliaan setelah dibangkitkan oleh Roh Allah (Roma 8:11), menjadi yang sulung/yang pertama bagi setiap orang percaya di hadapan Bapa, dengan demikian setelah kedua proses kelahiran kembali itu terjadi maka sempurnalah seluruh proses keselamatan yang dikerjakan Allah bagi kita supaya kita bisa masuk dalam Kerajaan Allah.

Kesimpulan
  • Pada waktu diciptakan, tubuh Adam adalah tubuh duniawi, yaitu tubuh yang memiliki potensi untuk berbuat dosa, terbukti ia memiliki keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan hidup, sebelum kejatuhannya. Ia juga memiliki sexual desire sebagai pertanda bahwa tubuhnya adalah tubuh duniawi karena tubuh Sorgawi tidak memiliki sexual desire, ingat Adam kawin / memiliki istri sebelum ia jatuh dalam dosa.
  • Kejatuhan manusia bukan masalah pilihan untuk berbuat dosa atau tidak. Kejatuhan manusia juga bukan semata masalah makanan, tetapi lebih dari itu adalah masalah keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup yang ada di dalam manusia sejak manusia diciptakan. Dengan demikian siapa pun dia, tidak harus Adam, jika masih memiliki keinginan mata, keangkuhan hidup dan keinginan daging, pasti jatuh, cepat atau lambat. Maksudnya adalah pada saat itu Adam mewakili manusia pada umumnya. Kejatuhan Adam adalah kejatuhan saya dan Anda, namun sekaligus janji keselamatan bagi Adam adalah janji keselamatan bagi saya dan Anda juga.
  •  Allah tidak menjebak/mencobai manusia ketika Ia menaruh pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di tengah-tengah taman Eden dan memerintahkan manusia untuk tidak memakannya. Kejatuhan manusia tidak dirancang Allah namun tidak juga di luar kontrol Allah. Tetapi dengan adanya perintah tersebut supaya nyata bagi manusia bahwa manusia membutuhkan Allah untuk menyelesaikan potensi dosa yang ada dalam dirinya. Dalam hal ini Allah nyata Ia tidak memiliki rancangan jahat, justru sejak semula rancangan-Nya adalah rancangan keselamatan bagi manusia.

Kutuk: Masihkah Ada Dalam Diri Orang Kristen?

Posted by CapungLaut 08.39, under |

 Ular, Adam, dan Hawa dimarahi TUHAN

Akhir tahun 2008 saya pernah ikut retreat encounter di daerah Kaliurang Jogjakarta. Di sana kami diberi tahu bahwa setiap orang pasti memiliki 'kutuk', baik berasal dari dirinya sendiri maupun berasal dari nenek moyang kami. Kemudian kami didoakan supaya 'kutuk' yang ada pada kami dipatahkan. Ketika kami tengah didoakan, tiba-tiba ada beberapa diantara kami yang jatuh menggelepar, muntah-muntah dan ada yang berbahasa roh. Suasana jadi agak sedikit mistis dan hiruk-pikuk.

Sepulang dari retreat tersebut justru timbul berbagai pertanyaan dalam diri saya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membebani saya hingga akhirnya saya mencari jawaban di Alkitab. Hal kedua yang mendorong saya untuk menggali persoalan kutuk adalah kehidupan pribadi saya yang penuh dosa. Apakah Tuhan mengampuni saya? Sejauh apa pengampunanNya? Apakah pengampunanNya hanya menjamin kehidupan kekal saja, sedangkan kehidupan sekarang tetap berada dalam kutuk dosa?

Karena ayat yang terambil untuk menjelaskan kutuk adalah dari kitab Ulangan beberapa pasal antara lain pasal 5, 11, dan 30 dan Kejadian pasal 3 dan 4 oleh sebab itu saya belajar melihat poin-poin penting dalam Kitab-kitab tersebut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seputar kutuk.

Sebelum kita belajar mengenai kutuk ada baiknya kalau kita belajar mengenai aturan Dasar Hukum Taurat bagi orang Kristen/ orang percaya Yesus.

Dasar ayat :



Mat 5:17  "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Mat 5:18  Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Mat 5:19  Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.


Jadisemua aturan Hukum Taurat  harus dilakukan dan diajarkan (misal kepada anak, saudara, tetangga, jemaat dll) selama belum digenapi Yesus. Kalau aturan Hukum Taurat sudah digenapi tidak perlu lagi dilakukan apalagi diajarkan supaya orang lain melakukan.
 
Contoh Hukum Taurat yang sudah digenapi Yesus:

1
. Sunat : Rom 4:11, Rom_2:29 Penjelasan singkat sbb: alat reproduksi laki2 adalah simbolisasi dari keinginan manusia. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa Hati adalah sumber keinginan manusia. Maka Keinginan tidak boleh diumbar tapi harus 'disunat' walaupun sakit dan berdarah-darah. Mengasihi orang yang menjengkelkan, mengalah & mengampuni rasanya juga sakit dan berdarah-darah. Yesus menggenapi sunat Hukum Taurat dengan mengampuni dosa, dibaptis air dan Roh Kudus di sungai Yordan dan senantiasa dalam pimpinan Roh Kudus (Mat.3:14-4:1; Luk.4:1 & 14) Karena tanpa Roh Kudus orang percaya tidak mampu mengampuni & menyalibkan kedagingannya
2. Korban Sembelihan : Mar_12:33, Ibr_10:6 Ibr 10:8. Yoh 3:16 Allah menebus dunia dasarnya adalah kasih. Ibr 10:12 hanya satu korban saja / untuk selama-lamanya (Ef.5:2) 1 Pet 4:8  Semakin sempurna kasih itu semakin banyak dosa yang bisa ditutupi. Hanya Yesus yang memiliki kasih yang sempurna. Kasih Yesus yg sempurna itu tlh dengan sempurna menutupi dosa yang terjahat sekali pun. Yesus menggenapi korban sembelihan Hukum Taurat dengan jalan menjadi korban penebus dosa di atas kayu salib karena kasih.


Lalu bagaimana dengan kutuk? Sekarang kita akan mulai belajar bersama-sama mengenai kutuk.

3. Kutuk
Dasar Ayat yang digunakan Pengajaran Kutuk: Ulangan 28 dan Kej.3 - 4
Dampak kutuk pada aspek kehidupan:
  • Individu 
  • Sosial: keluarga dan masyarakat, kehancuran keluarga 
  •  Kesehatan: sakit penyakit 
  •  Kehancuran ekonomi 
  •  Kebinasaan kekal
◘       Siapa yang mengutuk?

Gen 3:14  Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.Gen 3:15  Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.Gen 3:16 Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Gen 3:17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: Gen 3:18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; Gen 3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Pada kitab Kej 3:14 , yang mengutuk adalah TUHAN. Kalau yang mengutuk TUHAN maka siapa yang dapat mematahkan kutuk dari TUHAN? Tidak ada! Kecuali TUHAN sendiri, bukan?
Ketika manusia jatuh dalam dosa Alkitab mencatat TUHAN mengeluarkan 2 kata 'terkutuklah' yang masing-masing ditujukan kepada ular dan tanah. Tidak tertulis bahwa kata-kata kutuk ditujukan kepada Hawa dan Adam. Namun baru pada Kej 4:11 kata 'terkutuklah' ditujukan langsung kepada Kain. Artinya baru pada Kejadian 4 ada manusia yang hidupnya di bawah kutuk TUHAN, yaitu Kain. Bagaimana dengan Adam dan Hawa, apakah mereka manusia terkutuk? Alkitab tidak mencatat demikian, bahkan TUHAN menubuatkan bahwa keturunan mereka akan menghukum ular, yaitu dari jalur Set. 
Bagaimana kalau yang mengutuk iblis / manusia. Lihat kitab Am 26:2 dan Maz 109:28? Selama kita tidak meninggalkan TUHAN kutuk tersebut ada tidak ada kuasanya. 

◘      Kembali ke Ul.28, Siapa yg dikutuk? Ul. 11:28 mencatat bahwa yang dikutuk adalah bangsa Israel, menurut Kej.3 yang dikutuk adalah ular dan tanah sedangkan menurut Kej. 4 yang dikutuk adalah Kain.
◘       Alasan Tuhan mengutuk orang Israel: Ul 11:28 karena tidak mendengarkan perintah TUHAN, menyimpang dari jalan yang diperintahkan TUHAN dan mengikuti allah lain.

Ul. 11:28  dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.

Sedangkan menurut Kitab Kejadian 3 ular dikutuk TUHAN karena memperdaya perempuan dan tanah dikutuk TUHAN karena Adam tetap makan buah yang dilarang TUHAN untuk dimakan dan memilih mendengarkan istrinya dari pada TUHAN.

◘      Apakah yang menjadi tujuan kutuk? Ul. 30:1 menjelaskan apa sebenarnya tujuan kutuk TUHAN terhadap manusia.

Ul. 30:1  "Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau, Deu 30:2  dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,
Ul. 30:3  maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau.

Ternyata tujuan kutuk adalah supaya manusia / bangsa Israel beserta anak-anak mereka sadar dalam hati mereka, berbalik kepada TUHAN, mendengarkan suara-Nya sesuai dengan perintah-Nya dengan segenap hati dan dan segenap jiwa, maka TUHAN akan memulihkan keadaan sama seperti sebelum mereka meninggalkan TUHAN dan TUHAN akan menyayangi mereka.
Tetapi jika mereka tidak berbalik dan tetap mengeraskan hati dan hidup jauh dari TUHAN maka mereka akan tetap binasa

Ul. 28:20  TUHAN akan mendatangkan kutuk, huru-hara dan penghajaran ke antaramu dalam segala usaha yang kaukerjakan, sampai engkau punah dan binasa dengan segera karena jahat perbuatanmu, sebab engkau telah meninggalkan Aku.

◘      Bagaimana dengan zaman sekarang? Sesuai dengan prinsip Matius 5:17-19 tadi maka timbul pertanyaan: Apakah ayat tersebut di atas (Ulangan 28) sudah digenapi/ dilaksanakan / disempurnakan Kristus? Jawabanya kita temukan di :
Gal. 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:"Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Jadi TUHAN menyediakan jalan pertobatan yang sudah lama diingini-Nya dari manusia melalui Kristus dan IA sendiri juga yang mematahkan kutuk dg jalan menjadi kutuk bagi kita. Bagaimana dengan kenyataan orang percaya jaman sekarang masih mengalami kesulitan, kesusahan, masalah, sakit penyakit, dll. Apakah itu bukan karena kutuk?
Dalam surat Roma 8:1, Yoh.9:2-3, Wah 3:19 menyediakan jawaban pertanyaan kita di atas.
Jadi sakit penyakit, masalah dll yang ada pada orang percaya bukan kutuk dosa, tetapi Bapa hendak menyatakan kasih-Nya, dengan menegur dan menghajar anak supaya si anak menjadi pribadi yang lebih baik di mata Bapa bukan supaya si anak binasa.

Anak Allah di atas Kayu Salib sedang Menanggung Kutuk Saya dan Saudara

Lalu bagaimana supaya kutuk patah? Sesuai kata Alkitab (UL. 30:3; Gal.3:13) yaitu dengan jalan bertobat dan berbalik kepada YESUS dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa.
Oleh sebab itu orang yang sudah percaya YESUS tidak perlu ditengking-tengking kutuknya supaya pergi dari orang itu karena Alkitab tidak bilang begitu kan? Lagi pula jika yang mengutuk manusia berdosa adalah TUHAN lalu siapa yang mampu mengalahkan kuasa-Nya dengan mematahkan kutuk-Nya begitu saja? Sanggupkah manusia mematahkan kutuk terhadap dirinya dan orang lain? Alasan kedua menurut saya kutuk tidak bisa ditengking walaupun oleh 100 pendeta sekaligus, sebab pematahan kutuk adalah bagian dari penebusan dan penebusan hanya sah, berkenan dan berkuasa dihadapan Bapa adalah penebusan yang dilakukan oleh Sang Anak Manusia yang tanpa cacat cela oleh dosa, yaitu YESUS. 



“Terus Mencari Kerajaan Sorga”

Posted by CapungLaut 22.47, under , |


Semenjak menikah, aktivitas hidup saya berubah cukup drastis. Dahulu masih memiliki waktu untuk bersaatteduh, tetapi sekarang sebelum tidur masih memikirkan pekerjaan, bahkan ketika bangun tidur yang pertama-tama dipikir adalah pekerjaan. Saya merasa ‘sangat sibuk’ untuk mencari nafkah sampai-sampai melupakan saat teduh bersama Tuhan. Jiwa saya mendadak kering karena jarang membaca Firman.

Kebutuhan akan Tuhan membuat saya meluangkan waktu untuk mencari Tuhan. Dan ayat yang saya pilih untuk bersaatteduh adalah Matius 6:24-34.
Firman Tuhan ini mengajarkan kepada saya untuk memilih prioritas hidup antara menyembah Allah atau menyembah Harta. Simpelnya adalah: Lebih penting mana, Allah atau Harta.

Dalam catatan Matius, Yesus berkata (dalam bahasa saya): “Manakah yg lebih penting; hidup atau makanan, tubuh atau pakaian,  maksudnya adalah manakah lebih penting,  memiliki makanan tapi kehilangan hidup atau memiliki pakaian tapi tubuh binasa? Tidak tahukah kamu bahwa hidup mu sangat berharga dihadapan Allah sehingga Ia pasti akan memelihara hidupmu dan tidak tahukah kamu bahwa tubuh mu sangat mulia dihadapan Allah sehingga Ia pasti akan mendandaninya melampaui kemuliaan raja Salamo.”
Kemudian Yesus melanjutkan (masih dalam bahasa saya): ”Orang yang tidak percaya kepada Allah memprioritaskan harta, mereka mencari kebutuhan dengan keras di sepanjang hidup mereka. Lalu, apakah manfaat kekuatiran bagi hidup mereka? Ia tidak mampu menambahkan satu jam pun pada umur mu. Tapi Allah mampu!”
“Oleh karena itu kamu, anak-anak Allah, harus memprioritaskan Kerajaan dan keadilan*-Nya, baru semua kebutuhan hidup akan ditambahkan oleh Allah.”

*Catt: pada ayat 33 LAI menggunakan kata Kebenaran tetapi sesungguhnya kata yang digunakan adalah Dikaiosune yg artinya keadilan/justice.

Lalu pertanyaan yang muncul dibenak saya adalah bagaimana mencari Kerajaan dan Keadilan Allah?


Menurut Matius untuk mencari Kerajaan Sorga adalah:

Yang pertama adalah pertobatan sungguh-sungguh. Tanpa pertobatan tidak akan sampai kepada langkah selanjutnya.  Pertobatan adalah langkah awal dalam mencari Kerjaan Allah(Mat 3:2) (Mat 4:17)  (Mat 18:3)
Kedua, Sikap selalu bergantung dan berlindung kepada Allah. Miskin dihadapan Allah atau Ptokhoi to pneumati memiliki makna bergantung dan berlindung kepada Allah.  (Mat 5:3)
Ketiga, Hidup dengan Hukum Kasih. Pada masa itu terdapat orang Farisi dan ahli Taurat yang hidup dengan hukum taurat, tetapi mereka tidak akan masuk dalam Kerajaan Allah, hanya orang-orang yang hidup dengan Hukum Kasih yang akan memiliki Kerajaan Allah. Pada masa sekarang Taurat ada dalam hati setiap manusia. Kebaikan ala manusia yang dijadikan hukum ini tidak akan membuat orang masuk Kerajaan Allah. Orang tahu bahwa membunuh itu tidak baik dari mana? Dari hatinya, karena didalam hatinya sudah ada ada hukum Taurat. Oleh karena itu hati kita harus bersih dari hukum Taurat, artinya jangankan membunuh, membenci saudara saja adalah sebuah kejahatan. Dengan Hukum Kasih, kebencian adalah dosa, sama dengan pembunuhan. Dalam hukum Taurat kebencian tidak berdosa, tetapi pembunuhan-lah yang disebut dosa (Mat 5:20)
Keempat, Mempertahankan iman sebagai anak-anak Allah ditengah dunia ini. Sejak dahulu hingga jaman akhir, penyesatan, kesesakan, aniaya dan tekanan ekonomi membuat iman mati, hanya orang-orang yang mampu mempertahankan imannya sampai pada kesudahan yang akan masuk dalam Kerajaan Allah. (Mat 13:24 , 47) 
Kelima, Terus bertumbuh dalam Tuhan hingga melampaui kapasitas, bagi kerajaan Allah. Aneh kalau ada orang yang mengaku memperioritaskan Tuhan dalam hidupnya tetapi tidak ada pertumbuhan rohani dalam hidupnya. (Mat 13:31)
Keenam, Menjadikan Tuhan sebagai harta yang  paling berharga. Sekali lagi ini berbicara masalah prioritas. (Mat 13:44)
Ketujuh, Mengampuni karena telah diampuni. Saya menyebutnya adalah Keselamatan Tingkat Lanjut karena pemahaman setelah percaya kepada Kristus (jadi orang Kristen) secara otomatis akan selamat adalah Keselamatan Tingkat Awal. Keselamatan Tingkat Lanjut adalah kesadaran bahwa kalau ia tidak mau mengampuni maka keselamatannya akan hilang. (Mat 18:23)
Kedelapan, Melayani selagi ada kesempatan. Ingat, urutannya yang pertama adalah bertobat dahulu. Jangan sampai melayani tetapi hidupnya belum bertobat.Kita juga tidak tahu sekarang jam berapa dalam hidup kita. Seandainya saya hanya dikaruniai umur pendek maka sekarang bagi saya adalah ‘jam lima sore’, sebentar lagi gelap. (Mat 20:1)
Kesembilan, Memikul salib. Kristus telah menderita karena kita, ada saatnya setiap orang percaya akan menderita karena Kristus, meskipun masing-masing orang Kristen tidak sama bobot penderitaannya, tergantung anugerah iman masing-masing  (Mat. 5:10)
Kesepuluh, Berjaga-jaga sampai Tuhan datang.  Firman Tuhan adalah minyak bagi batin kita supaya tetap bersinar memberi penerangan kepada setiap jalan hidup yang kita ambil. Oleh karena itu berjaga-jagalah dengan cara membaca, merenungkan dan mempraktekan Firman Tuhan, supaya ketika Tuhan datang Ia tidak mendapati hati kita gelap karena tidak ada Firman di dalamnya  (Mat 25:1)

Amin