Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Dicintai TUHAN

Posted by Unknown 01.49, under | No comments



Tidak ada allah lain yang pernah mengutarakan cinta kepada umat-nya seperti TUHAN, Allah Israel. Sering disebut juga Allah Ibrahim, Ishak, dan Yakub.

Keluaran.20:3-5
3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu.”

TUHAN memakai bahasa cinta ketika berbicara dengan Israel, umat-Nya. Ia menggunakan kata CEMBURU yang jelas-jelas adalah bahasa cinta.
Sebetulnya Ia bisa saja memilih kata WIBAWA dari pada kata Cemburu, sehingga kalimat di atas menjadi “sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang BERWIBAWA.”
Atau Ia bisa juga memilih kata TEGAS, sehingga kalimat di atas menjadi “sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang TEGAS.”
Tetapi Ia telah memilih kata Cemburu untuk menggambarkan Cinta-Nya kepada umat-Nya.

Barangkali agar lebih jelas bahwa ini adalah bahasa cinta dari TUHAN, Allah Israel, bagi umat-Nya, Keluaran20:3-5 akan saya terapkan kepada isteri saya, sehingga kira2 saya akan berkata seperti ini kpd isteri:

“Jangan ada padamu pria lain di hadapan-ku. Jangan membuat bagimu pujaan yang menyerupai apapun baik menyerupai boy band Korea di timur, atau menyerupai aktor Hollywood di barat, atau menyerupai Aliando artis lokal.
Jangan jatuhcinta kepadanya atau berselingkuh dengannya, sebab Aku, ARMAN, suamimu, adalah suami yang cemburu.”

Jadi…., bersyukurlah karena TUHAN mencintaimu sedemikian kuat!

GBU

Rut

Posted by Unknown 16.48, under ,, | No comments



Latar belakang Rut
Rut adalah seorang perempuan Moab yang diperistri oleh Mahlon, seorang dari suku Yehuda yang merantau ke daerah Moab. Berapa usia pernikahan pasangan ini tidak dijelaskan oleh penulis kitab ini. Namun yang jelas usia pernikahan mereka tidak lebih dari sepuluh tahun. Namun waktu yang tidak begitu lama itu cukup untuk membuat Rut mengenal dan percaya kepada Yahweh, Allah Israel. Pada saat itu bangsa Moab menyembah dewa Kemos yang disembah orang Moab melalui ritual liar dengan mengorbankan manusia.[1]
Nama Rut bukan nama Ibrani sehingga arti nama itu tidak dapat dipastikan. Tetapi dari susunan huruf yang membentuknya, Rut dapat berarti sahabat perempuan.[2]
Entah apa yang menjadi penyebabnya, keluarga ini kehilangan suami-suami mereka. Lalu mengapa Rut bersedia mengikuti Naomi pergi ke tempat yang belum pernah ia kenal sebelumnya? Mengapa ia mempertaruhkan masa depannya di tanah kelahirannya dan malah pergi mengikuti Naomi?

Keputusan Iman
Ketika Naomi berniat untuk kembali ke Betlehem di tanah Yehuda, Rut bersikeras untuk mengikuti kemana Naomi pergi. Sesungguhnya keputusan Rut ini cukup berani mengingat begitu besar hal yang dipertaruhkan Rut jika ia mengikuti Naomi.
Pertama, Rut harus meninggalkan semua yang dahulu dikasihinya, yaitu ibu dan keluarganya, bangsanya dan Kemos - tuhan sesembahan bangsanya.
Kedua, keputusannya untuk mengikuti Naomi adalah keputusan yang tidak masuk akal. Naomi adalah janda yang sudah jatuh miskin. Secara nalar tidak ada harapan masa depan apapun jika Rut mengikuti janda miskin seperti Naomi.
Ketiga, dengan meninggalkan ibu dan keluarganya, Rut kehilangan jaminan kepastian untuk memperoleh suami lagi. Bersama Naomi, Rut tidak melihat kemungkinan untuk bersuami lagi mengingat Naomi sudah tua dan tidak memiliki anak lelaki lagi. Tetapi dengan tetap tinggal di Moab di tengah-tengah keluarganya sebenarnya Rut ada harapan besar untuk memiliki suami lagi, meskipun suami yang akan diperolehnya nanti tentu saja adalah seorang pria bangsa Moab penyembah Kemos. Agaknya Rut tidak ingin menikah dengan seorang penyembah Kemos.
Keempat, perjalanan dari Moab ke Betlehem bukan suatu perjalanan yang mudah bagi dua orang perempuan. Pada masa itu (masa Hakim-hakim) sedang terjadi kemorosotan moral manusia, sangat mudah seseorang berbuat jahat terhadap mereka di tengah jalan. Apalagi perjalanan tersebut menempuh jarak lebih dari 80 km.
Kelima, Betlehem adalah daerah yang sebelumnya tidak dikenal Rut. Diperlukan iman yang cukup besar untuk pergi dengan ketetapan hati ke daerah yang tidak diketahuinya sebelumnya (Rut 2: 11). Iman semacam ini mengingatkan penulis kepada iman Abraham ketika ia dipanggil TUHAN ke tanah yang akan ditunjukan TUHAN.

Setia kepada Keputusan Iman walaupun ujian iman datang bertubi-tubi
Kehilangan suami adalah ujian pertama Rut bagi keputusannya untuk menyembah Yahweh, Allah Israel. Kemudian perjalanan Rut dan Naomi dari Moab ke Betlehem yang sangat jauh dan beresiko tinggi menjadi ujian kedua bagi kesetian Rut terhadap keputusan imannya itu. Seandainya iman Rut tidak kuat tentu ia sudah memilih kembali ke rumah ibunya seperti Orpa. Namun Rut tetap bertahan pada imannya sampai akhirnya mereka berdua tiba dengan selamat di Betlehem.
Sesampainya mereka di Betlehem, sambutan yang mereka terima bukan sambutan hangat penuh sukacita dari penduduk Betlehem, namun sambutan keprihatinan dari penduduk Betlehem. Bukan kata-kata membangun atau sukacita yang mewarnai sambutan kepulangan mereka, tetapi kata-kata “Mara”, “yang pahit”, “tangan yang kosong”, “TUHAN menentang aku”, dan “malapetaka” yang mewarnai kepulangan mereka. (Rut 1:20-21). Semua ini menjadi pukulan ketiga bagi keputusan iman Rut.
Setelah itu Rut harus menghadapi kenyataan bahwa untuk sekedar menyambung hidup mereka, ia harus bekerja mengais sisa-sisa panen yang tertinggal. Pekerjaan itu lebih rendah dari pekerjaan hamba[3]. Tetapi Rut melakukannya dengan rajin dan tanpa keluhan walaupun sampai sejauh ini keputusan iman Rut tidak membawa Rut kepada keadaan yang lebih baik.

Upah Iman
Kesetiaan Rut terhadap imannya menghasilkan upah besar. Upah ini meliputi upah jasmani dan upah rohani.
Semenjak bertemu dengan Boas, Rut menerima kemurahan dan perlindungan dari Boas. Sehingga Rut tidak diganggu oleh pekerja laki-laki. Rut juga mampu menghidupi Naomi dari kemurahan Boas terhadapnya.
Namun upah yang paling membahagiakan Rut tentu saja adalah kesanggupan Boas untuk menebus ia dan Naomi. Semenjak itu Rut dan Naomi tidak perlu lagi mengais sisa-sisa panen di ladang Boas. Ia sekarang adalah Nyonya tanah, bukan hamba lagi.
Secara rohani, Rut juga memperoleh upahnya. Nama Rut, disebut-disebut di dalam Alkitab sebagai salah satu pahlawan iman. Ia juga memperoleh anugerah rohani menjadi nenek moyang Raja Israel, yaitu Raja Daud. Dari Raja Daud ini kemudian janji Mesianik diteruskan. Di dalam Matius 9:27 Yesus disebut juga Anak Daud.

Aplikasi
Rut memberi pelajaran iman kepada penulis bagaimana memiliki iman kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Ada harga yang harus dipertaruhkan berkaitan dengan iman kepada Tuhan.
Penulis juga belajar untuk tetap setia dan sabar meskipun keputusan iman tidak segera mendatangkan hal-hal baik dalam hidup penulis. Bahkan keputusan iman itu seakan-akan justru mendatangkan kesusahan bertubi-tubi dan cukup lama seperti yang terjadi terhadap Rut.
Tetapi penulis juga diteguhkan oleh kitab Rut ini, bahwa Tuhan adalah Allah yang memperhatikan (1:6), mengaruniakan dan memberi perlindungan (1:9), menyertai (2:4), memberi upah (2:12), memberkati (3:10) dan rela menolong (4:14).
Penulis diteguhkan oleh kitab Rut bahwa kesetiaan terhadap Allah tidak akan sia-sia. Allah telah menyediakan upah besar bagi orang yang setia kepadaNya, baik upah jasmani maupun rohani. Amin












KEPUSTAKAAN

Albright, William F. Yahweh and the Gods of Canaan. Garden City: Doubleday, 1969
Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1991
Lewis, Arthur H. Judges/Ruth. Chicago: Moody Press, 1979
Saparman. Kupasan Firman Allah: Kitab Rut. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2003
Sumber gambar: http://www.www.bible-people.info 



[1] William F. Albright, Yahweh and the Gods of Canaan, (Garden City: Doubleday, 1969), 239-240
[2] Arthur H. Lewis, Judges/Ruth, (Chicago: Moody Press, 1979), 110-111
[3] Saparman, Kupasan Firman Allah: Kitab Rut, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2003), 60

Baptisan untuk orang yang sudah mati

Posted by Unknown 00.30, under , | No comments



Sebulan belakangan ini saya berkesempatan untuk belajar Kitab Mormon dan belajar bahasa Inggris gratis dari dua orang elder (sebutan untuk misionaris dari Gereja Yesus Kristus; Orang-orang Suci Jaman Akhir).
Ketika saya belajar Kitab Mormon, dua elder pengajar saya mendorong saya untuk berdoa kepada Bapa untuk mencari jawaban mengenai kebenaran Kitab ini. Saya memang berdoa untuk sebuah jawaban dan inilah jawaban doa saya. Saya harap elder berdua bersedia membaca dan merenungkan sungguh-sungguh walaupun semua yang saya tulis sebenarnya sudah saya sampaikan secara langsung kepada elder berdua.
Saya menulis sedikit apa yang sudah diajarkan kepada saya mengenai Kitab Mormon dan mencoba memadankannya dengan ajaran Alkitab supaya kita bisa merenungkan bersama.

Saat saya untuk pertamakali dan membaca Kitab Mormon, maka hal pertama yang mucul di dalam pikiran saya bukan masalah doktrin tetapi adalah masalah sejarah: “Mengapa dalam pelajaran di sekolah mengenai sejarah dunia tidak pernah ada materi sejarah bangsa Laman, Yared dan Nefi di benua Amerika?”
Menurut Kitab Mormon, bangsa Laman, Yared dan Nefi yang adalah bangsa yang besar dengan kota-kota yang besar di benua Amerika, jadi sangat sulit dipahami bahwa sampai sekarang sedikitpun tidak ditemukan peninggalan fisik dari mereka.
Demikian juga Bahasa Ibrani yang dipakai oleh bangsa-bangsa ini juga tidak diwariskan kepada bangsa Indian, di mana kemudian mereka tinggal bersama. Sepertinya tidak pernah terjadi interaksi budaya Ibrani dengan budaya bangsa Indian.

Kemudian saya diberi tugas untuk membaca bagian-bagian lain dari kitab Mormon ditambah khotbah Penatua Ted R. Callister. Disamping itu masih ada lagi kitab-kitab lain dalam kitab Mormon salah satunya adalah kitab Ajaran dan Perjanjian (untuk selanjutnya saya sebut A&P).

Ada banyak ajaran gereja ini yang sudah cukup saya kenal sebelumnya, misalnya mengenai baptis selam, penyerahan anak, gereja yang memiliki standard moral tinggi, dan gereja yang berpusat pada keluarga. Oleh karena Alkitab juga mendukung ajaran ini, maka layaklah ajaran-ajaran tersebut diklaim sebagai fondasi Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir.

Selain ajaran-ajaran tersebut di atas, ada juga ajaran-ajaran yang sama sekali belum pernah saya dengar sebelumnya. Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir menyatakan bahwa gereja ini memiliki struktur organisasi gereja dan ajaran yang  paling tepat sesuai dengan kehendak Yesus Kristus (A&P 1:30). Sebagai blueprint (dasar Alkitabiah struktur organisasi dan ajaran gereja) dari Gereja ini, penatua Callister menggunakan Surat Paulus kepada jemaat di Efesus 2:20:

“dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru” (ITB Version)

“Having been built on the foundation of the apostles and prophets, Jesus Christ Himself being the chief cornerstone” (NKJ Version)

Saya menyertakan terjemahan New King James Version karena Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir hanya mengakui Alkitab Versi Raja Yakubus tersebut, itupun dengan koreksi dan penambahan ayat versi Nabi Joseph Smith.

Berdasarkan ayat tersebut di atas, Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir menggunakan kuorum 12 rasul dalam struktur organisasi gerejanya.

Tetapi Alkitab bersaksi bahwa jumlah rasul Kristus pada masa gereja mula-mula bukan 12 orang, karena selain 12 rasul Kristus yang telah dipilih ternyata ada 1 rasul lagi yang dipilih secara langsung juga oleh Yesus Kristus di tengah jalan dari Yerusalem menuju Damsyik setelah penyaliban dan kebangkitan-Nya (Kisah Para Rasul 9, Roma 1:1) dan rasul ini juga telah menulis dasar-dasar iman Kristen lebih banyak dari rasul-rasul lain.
Sekarang kita mendapatkan fakta Alkitab bahwa paling sedikit jumlah rasul ada 13 orang bukan?
Keduabelas rasul sesungguhnya memiliki tugas yang sedikit berbeda dengan rasul ke-13.
Tugas utama keduabelas rasul adalah menginjili dua belas suku Israel (Mat.4:19) dan menghakimi dua belas suku Israel nanti (Mat.19:28).
Sedangkan tugas utama rasul ke-13 adalah menginjili bangsa-bangsa selain Israel, Raja-raja termasuk Israel juga (KPR 9:15)
Yesus Kristus tidak bermaksud membentuk kourum 12 sebagai sebuah struktur organisasi gereja.

Mungkin kita bisa menggangap perbedaan jumlah rasul antara Alkitab dan gereja ini tidak penting, yang terpenting bahwa ajaran para Rasul lah yang menjadi fondasi gereja.
Karena sangat mungkin maksud Efesus 2:20 untuk membangun sebuah gereja yang sesuai dengan blueprint Alkitab adalah dengan mematuhi setiap ajaran para rasul dan nabi sebagai fondasi gereja Kristus. Baiklah sekarang kita mulai membicarakan ajaran yang lain dari Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir.

Hal yang diajarkan oleh Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir adalah salah satunya adalah pembaptisan bagi orang mati. Artinya ajaran ini mengajarkan orang hidup yang dibaptis bagi orang mati yang dahulu di masa hidupnya oleh karena sesuatu hal belum sempat dibaptis. Ajaran ini diambil dari salah satu Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 15: 29)

“Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” (ITB Version, huruf miring ditambahkan)

“ Otherwise, what will they do who are baptized for the dead, if the dead do not arise at all? Why then are they baptized for the dead?” (NKJ Version)

Jika kita baca secara teliti maka kita akan mendapatkan bahwa Surat tersebut dilatarbelakangi oleh ketidakpercayaan sebagian jemaat Korintus akan adanya  kebangkitan orang mati. Untuk meyakinkan Jemaat Korintus maka Paulus memberi contoh 2 sikap kebiasaan dari orang-orang yang percaya adanya kebangkitan orang mati. Yaitu kebiasaan orang lain dan kebiasaan Rasul Paulus sendiri.

Kebiasan orang-orang di Korintus saat itu ada yang membaptis orang hidup untuk mewakili orang yang sudah mati agar di hari kebangkitan nanti orang mati tersebut memiliki kesempatan untuk diselamatkan.
Agak aneh memang orang-orang Korintus ini, di satu sisi mereka tidak percaya adanya kebangkitan orang mati, di sisi lain mereka membaptis orang hidup mewakili orang mati untuk menyelamatkan orang yang mati tersebut pada hari kebangkitan nanti.
Rasul Paulus sendiri jelas tidak melakukan pembaptisan orang mati. Seandainya Rasul Paulus juga melakukan kebiasaan ini maka semestinya ayat tersebut akan berbunyi sebagai berikut:

“Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan kami yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa kami mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” (ITB Version, huruf miring ditambahkan)

“ Otherwise, what will we do who are baptized for the dead, if the dead do not arise at all? Why then are we baptized for the dead?” (NKJ Version)

Tetapi pada kenyataannya bunyi ayat tersebut tidak seperti itu tetapi seperti ini:

“Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” (ITB Version, huruf miring ditambahkan)

“ Otherwise, what will they do who are baptized for the dead, if the dead do not arise at all? Why then are they baptized for the dead?” (NKJ Version)

Jadi Rasul Paulus menulis ayat tersebut  menggunakan kata ganti subyek they (mereka) bukan we (kami). Sehingga Paulus sendiri tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang melakukan kebiasan membaptis orang hidup bagi orang yang sudah mati.
Sekarang kita tahu kebiasaan membaptis orang hidup untuk orang mati adalah kebiasaan sebagian orang-orang Korintus, bukan pengajaran Rasul Paulus.

Sedangkan ayat 30 hingga ayat 32 menjelaskan kebiasan Paulus dan rasul yang lain yang menunjukan bahwa mereka percaya akan adanya kebangkitan orang mati.

“Dan kami juga--mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? 
Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. 
Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati". (ITB Version huruf miring ditambahkan)

“And why do we stand in jeopardy every hour? 
I affirm, by the boasting in you which I have in Christ Jesus our Lord, I die daily. 
If after the manner of men I  have fought with beasts at Ephesus, what advantage is it to me, if the dead do not rise? “Let us eat and drink; for to morrow we die.” (NKJ Version)

Jadi itulah sikap Rasul Paulus untuk menunjukan bahwa Rasul Paulus percaya akan adanya kebangkitan bagi orang mati, ia tidak khawatir terhadap kematian yang mengancamnya setiap hari oleh karena Yesus Kristus.

Jadi jika kita mempraktekan baptisan orang mati maka artinya kita sedang meneladani sebagian orang-orang Korintus membaptis orang hidup bagi orang mati dengan otoritas yang tidak jelas dari siapa. Bagaimana mungkin kita menjadikan ajaran orang yang bukan Rasul dan bukan juga Nabi sebagai fondasi gereja?

Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir juga mengajarkan kekekalan pernikahan di sorga nanti. Penatua Callister, dalam khotbahnya pada kebaktian Church Educational System di Universitas Brigham Young 12 Januari 2014, menggunakan ayat Matius 18:18 sebagai dasar argumentasi tersebut. Namun sayang sekali Penatua Callister tidak terliti dalam membaca Matius 18:18 karena ayat tersebut tidak berbicara mengenai pernikahan. Tetapi ayat tersebut berbicara mengenai cara menolong saudara kita yang jatuh dalam dosa. Yaitu jika kita mengikat saudara kita dengan cara menasehati dan menegur saudara kita yang jatuh dalam dosa saat di bumi ini maka saudara kita tidak terlepas dari Kerajaan Sorga.
Sedangkan Matius 22:30 yang berbicara mengenai pernikahan setelah kematian justru tidak dipergunakan oleh Penatua Callister. Mungkin karena Matius 22:30 bertentangan dengan A&P. 132:19-20.
Yesus mengajarkan bahwa tidak ada pernikahan saat kehidupan kekal nanti. Karena kasih yang dimiliki setiap orang akan disempurnakan seperti kasih Allah (Matius 5:46-48), melampaui kasih seorang laki-laki terhadap seorang perempuan atau seorang suami terhadap isterinya saat ini. Jadi relasi yang kita miliki nanti lebih kuat, lebih murni dan lebih indah dari relasi suami-isteri seperti yang kita kenal sekarang ini.

Setiap jemaat Gereja Yesus Kristus: Orang-orang Suci Jaman Akhir juga diajarkan untuk hidup sehat sebagai buah gereja bagi Tuhan.
Dari sisi kesehatan ajaran ini jelas sangat baik. Tetapi apakah ajaran ini memiliki makna rohani? Maksudnya apakah jika kita tidak memiliki tubuh sehat maka kita tidak mendapat bagian dalam Kerajaan-Nya? Bagaimana dengan ajaran Paulus untuk mempersembahkan tubuh yang hidup, yang kudus sebagai senjata-senjata kebenaran? (Roma 12:1; Roma 6:13). Jelas ajaran Paulus memiliki makna utama yang rohani, artinya jika kita tidak mempersembahkan tubuh yang hidup, yang kudus sebagai senjata-senjata kebenaran maka kita tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Di dalam Matius 15:1-20 Yesus  mengkritik ajaran orang Farisi yang mengajarkan pembasuhan tangan sebelum makan. Ajaran ini memang bagus dari sisi kesehatan, namun ajaran ini adalah ajaran manusia yang diajarkan sebagai doktrin oleh orang Farisi dan Ahli Taurat. Yesus Kristus mengkoreksi bahwa ajaran ini tidak memiliki makna rohani apapun (Mat.15:20).

Ada banyak ajaran-ajaran Gereja Yesus Kristus; Orang-orang Suci Jaman Akhir  yang masih menjadi ganjalan bagi saya, misal: bahwa Bapa memiliki daging dan tulang, bukan semata roh saja, hal ini bertentangan dengan Yoh.4:24; 2 Kor.3:17, sehingga dari hubungan Allah Bapa dan Maria maka lahirlah Yesus Kristus. Hal ini bertentangan dengan Alkitab bahwa Maria mengandung oleh karena kuasa Roh Kudus. Mereka juga mengajarkan bahwa Yesus adalah Yahweh pada masa PL. Paling tidak semua itu dianggap kebenaran oleh Gereja Yesus Kristus:Orang-orang Suci Jaman Akhir.

Maka seandainya Alkitab adalah kebenaran Allah (Yoh.17:17) dan seandainya A&P adalah juga kebenaran Allah (A&P.19:26) maka bagaimana mungkin ada dua kebenaran yang bertentangan? Harus ada salah satu yang ‘mengalah’ bukan?

Lalu pertanyaan lain yang timbul adalah: “Apakah konsekuensi bagi orang yang melakukan ajaran manusia seakan-akan melakukan perintah Yesus Kristus namun di saat yang sama justru mengabaikan ajaran Yesus Kristus?” Apakah mereka kehilangan keselamatan mereka?
Matius 15:9 menjelaskan kepada kita hal itu sebagai berikut:

“Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (ITB Version)

“And in vain they worship Me, teaching as doctrines the commandments of men.” (NKJ Version)

Jika mengajarkan perintah manusia sebagai doktrin maka konsekuensinya adalah ibadah kita sia-sia dihadapan Yesus Kristus. Ibadah kita dianggap tidak pernah ada. Dengan kata lain kita masuk dalam golongan orang-orang yang tidak pernah beribadah kepada Yesus Kristus. Orang-orang yang tidak beribadah kepada Yesus Kristus bagaimana mungkin memperoleh bagian dalam Kerajaan-Nya?



Sumber gambar: tillhecomes.org

Abram Menjadikan Sarai Sebagai Tumbal?

Posted by Unknown 00.06, under | 3 comments

ABRAM MENJADIKAN SARAI SEBAGAI TUMBAL
(Kejadian 12:10-20)



Abram dan Sarai menikah di Ur-Kasdim. Usia nikah seorang laki-laki pada masa itu ±30 tahun. Jadi jika umur Abram saat berada di Haran 75 tahun maka usia pernikahan Abram-Sarai  ±45 tahun, cukup lama ya..

Sarai ini sudah disebut mandul sejak mereka di Ur-Kasdim namun tidak ada usaha Abram untuk menceraikan Sarai atau mengambil isteri lagi meskipun ‘sepertinya’ Abram punya hak untuk melakukannya. Karena pada masa itu memiliki isteri lebih dari satu adalah hal yang biasa, dengan atau tanpa sebab apa pun. Apalagi jika ada sebab-sebab tertentu yang menjadikan laki-laki punya alasan untuk berpoligami, misalnya salah satu alasan laki-laki diperbolehkan oleh masyarakat untuk berpoligami adalah jika si isteri mandul seperti Sarai.
Namun Abram terus menjadikan Sarai satu-satunya istri sekalipun Abram tahu garis keturunannya bakalan terhenti jika ia tetap mempertahankan Sarai sebagai satu-satunya isteri. Barangkali inilah salah satu teladan bagi kita untuk mengasihi pasangan hidup kita apapun kekurangannya. Demikian juga Sarai taat dalam kasih kepada Abram sedemikian hingga ia menyebut Abram sebagai tuan-nya.

Abram ini juga mau mengambil alih tanggungjawab kakaknya yang telah meninggal untuk memelihara keponakannya, Lot. Abram mengasihi Lot sungguh-sungguh. Hal ini terbukti ketika Lot ditawan 5 raja dari timur (Kej.14), Abram dengan segera berperang bagi keselamatan Lot.
Keponakannya saja dikasihi dengan mengorbankan nyawa apalagi terhadap isteri, pasti cintanya jaauuu...hhh lebih besar.

Jujur, saya sering merasa diri sebagai laki-laki yang paling setia, paling baik, paling mengasihi isteri tetapi setelah membaca kisah Kejadian 12 saya jadi sadar diri..
*malu mode: ON* hehehe...

Sekarang keluarga yang saling mencintai ini menghadapi persoalan rumit. Mereka ada pada masa kelaparan yang melanda seluruh Kanaan dan sekitarnya. Penyebab pasti masa kelaparan ini tidak ditulis. Penyebab umum kelaparan biasanya karena hama atau kemarau yang terlampau panjang. Mengingat luasnya wilayah yang dilanda kelaparan bisa jadi penyebabnya adalah kemarau yang sangat panjang.
Diceritakan bahwa posisi mereka saat itu ada disebelah selatan gurun Negeb, artinya mereka berada ±200km dari Sungai Yordan disebelah Utara dan ±150 km dari Sungai Nil di sebelah Barat. Sedangkan disebelah Selatan adalah gunung Sinai dan sebelah Timur adalah Midian, dan gurun Arab, adalah daerah-daerah yang tidak memiliki sungai besar.
 Tetapi Sungai Yordan ada di Kanaan, yaitu daerah yang sedang dilanda kelaparan, artinya Sungai Yordan juga dilanda kekeringan. Sekarang satu-satunya harapan untuk bertahan hidup hanya-lah Sungai Nil.

Seperti diketahui, Sungai Nil merupakan daerah kekuasaan Firaun, negara adidaya pada masa itu. Raja yang kuat ini agaknya juga terkenal suka menghalakan segala cara untuk memuaskan hasratnya terhadap perempuan-perempuan cantik. Persoalan muncul karena Sarai, isteri Abram, adalah perempuan yang sangat cantik meskipun sudah berumur 65 tahun.

Ada persoalan lain lagi bagi kita pembaca Alkitab di masa ini karena tertulis umur Sarai 65 tahun dan disebut masih sangat cantik. Bagi kita umur 65 tahun bukannya sudah nenek-nenek? Masak umur segitu masih begitu cantik sampai-sampai raja sekaliber Firaun ngiler?

Sekali lagi ternyata kita harus membaca data Alkitab lebih hati-hati supaya kita bisa memahami dunia masa itu seperti yang dipaparkan penulisnya.
Satu hal yang kita ketahui dari Alkitab bahwa harapan hidup manusia saat itu masih panjang. Misalnya Nahor kakek Abram mencapai umur 148 tahun. Terah, ayah Abram umurnya mencapai 205 tahun, Abraham sendiri mencapai umur 175 tahun, Ishak bin Abraham mencapai umur 180 tahun, Ismael kakak tiri Ishak mencapai umur 137 tahun. Jadi dari kelima orang tersebut kita dapatkan rata-rata harapan hidup manusia Israel di jaman Abram adalah 170 tahun. Bandingkan dengan rata-rata harapan hidup orang Israel sekarang menurut Wikipedia yang (hanya) 80,96 tahun.
Jadi kondisi fisik Abram yang berumur 75 tahun masa itu jika dikonversi dengan umur manusia jaman sekarang kurang lebih menjadi 75/170 x 80,96  = 35,71765 tahun, kita bulatkan menjadi 36 tahun, sedangkan Sarai 65/170 x 80,96 = 30,95529 tahun, kita bulatkan menjadi 31 tahun. Belum tua-tua amat kan? Pantesan masih disebut cantik..

Perhitungan di atas bukan rumusan baku dari para scientist. Tetapi lebih hanya sebagai cara saya untuk mengatakan bahwa kita tidak bisa begitu saja membawa masa lalu ke dalam masa kini. Ada banyak jurang pemisah antara zaman kita dengan zaman Abram, hanya saja untuk merumuskan sebuah jembatan penghubung yang sempurna antara dua zaman ini saya tidak mampu, oleh karena itu saya memakai cara awam yang sangat sederhana untuk menolong saya memahami adanya perbedaan bahwa seseorang yang berumur 65 tahun di masa itu tidak bisa begitu saja dianggap sama dengan seseorang yang berumur 65 tahun di masa sekarang.

Ok, persoalan Sarai yang berumur 31, eh, 65 ding, tapi cantik saya anggap clear. Masih ada persoalan lagi bagi kita, atau pertanyaan besar mengapa Abram sampai hati menjadikan Sarai tumbal untuk cari selamat diri sendiri? Lagian ngapain juga Sarai nurut saja disuruh-suruh oleh Abram?

Ketika saya mencoba mengambil posisi Abram saat itu, saya merasa sulit sekali untuk mengambil sebuah keputusan. Dari berbagai sisi Abram sangat terjepit. Jika Abram mengambil keputusan untuk balik ke Kanaan maka yang akan ia temui adalah tidak adanya makanan dan air bagi ia dan seluruh orang-orang yang ada di dalam rombongannya. Tanpa air manusia hanya dapat bertahan hidup 2-5 hari saja. Sekalipun seandainya Abram masih memiliki persediaan air, maka dalam waktu 1-2 minggu apakah masih sisa? Sangat mungkin tidak sampai 1-2 minggu saja ia dan seluruh keluarganya akan tumpas di tanah Kanaan.
Sekarang pilihan untuk tetap bertahan hidup bagi ia dan keluarganya hanya dengan berjalan ke Barat yaitu ke Sungai Nil.

Di Mesir, Abram harus menentukan, sekali lagi, sebuah pilihan yang lebih sulit berkenaan dengan ancaman yang datang dari perilaku Firaun saat melihat perempuan cantik.
Sebagai seorang suami yang mencintai isterinya tentu saja ia tidak akan menyerahkan isterinya yang dicintainya kepada laki-laki lain untuk dijadikan pemuas nafsu. Kalau ia tetap mempertahankan Sarai maka akibatnya ia mati dibunuh Firaun dan Sarai tetap saja menjadi alat pemuas nafsu Firaun. Kalau ia mati maka tidak ada lagi harapan bagi Sarai yang dicintainya untuk keluar dari Mesir.
Tetapi jika ia hidup, walaupun harus dengan menyerahkan Sarai ke tangan Firaun, maka selalu akan ada pengharapan bagi Sarai untuk keluar dari cengkeraman Firaun.

Maka Abram dengan hati perih memutuskan untuk tetap hidup agar suatu saat nanti ia bisa membawa istrinya keluar dari tanah Mesir apapun keadaanya. Bukankah sudah ia buktikan bahwa ia mencintai isterinya dengan segala kekurangannya selama 45 tahun sejak dari Ur-Kasdim?
Sarai, sang isteri paham betul cinta suaminya yang kuat terhadap dirinya. Bagaimanapun ia telah lebih dari 45 tahun hidup bersama laki-laki tulus ini. Oleh karena itu ketika Abram memintanya untuk ‘pasrah’ diambil Firaun, Sarai mentaati permintaan suaminya ini.

Susah sekali bagi saya untuk tidak menitikkan air mata ketika mengetahui pengorbanan sang suami dan sang isteri yang sama-sama berat ini.  Dalam masalah yang berat ini mereka masing-masing memberi diri untuk menanggung beban persoalan secara bersama-sama.

Namun terpujilah TUHAN, Allah Yang Hidup, Allah Abram yang tidak pernah tinggal diam! IA menghardik Firaun dengan kerasnya sehingga Firaun ketakutan dan menyerahkan Sarai kembali kepada Abram saat itu juga.

Memang benar bahwa di dalam TUHAN segala persolan pasti memiliki Happy Ending! Karena bagi DIA, Abram – bapa orang percaya itu - dan kita anak-anak Abram di dalam iman, adalah biji mata-Nya, artinya jika mata kena debu yang paling kecil sekalipun akan membuat DIA yang memiliki mata akan merasa perih kesakitan. Nah, kalau Yang Maha Kuat sudah kesakitan, IA akan membela biji mata-Nya, siapakah yang akan tahan menerima hardikan-Nya?

Hari ini saya belajar tentang arti cinta, ketulusan dan pengorbanan dari Abram, Sarai dan tentu saja, dari TUHAN.

Tidak ada pilihan Ketiga

Posted by Unknown 11.40, under | No comments

Sumber: www.123rf.com


Kitab Kejadian pasal 12 ini bercerita tentang panggilan TUHAN kepada keluarga Abram. Keluarga ini terdiri dari Terah, Abram, Sarai dan Lot.
Terah ini adalah ayah Abram, Nahor dan Haran. Sedangakan Lot adalah anak alm Haran.  Sarai isteri Abram (Sarai masih ada hubungan keluarga dengan Abram – Kej.12:13), istri Nahor adalah Milka ( Milka ini anak Haran, jadi Nahor menikahi keponakannya). Jadi pada masa itu keluarga Terah memang memiliki tradisi untuk tidak mengambil isteri dari luar keluarga mereka. Cara ini juga masih di pakai Abram ketika ia menikahkan Ishak anaknya (Kej.24:3), dan cara ini juga dipakai Ishak ketika menikahkan Yakub (Kej.28:1).

Dalam Kitab Kejadian 11:31 disebutkan bahwa Terah membawa keluarganya, yaitu anak, menantu dan cucunya, pergi dari Ur-Kasdim menuju ke Haran

Kej. 11:31  Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana.
Kej. 11:32  Umur Terah ada dua ratus lima tahun; lalu ia mati di Haran.


Kemudaian datanglah Firman TUHAN kepada Abram:

Kej.12:1  Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
Kej. 12:2  Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
Kej. 12:3  Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Sekarang kita akan coba pisah-pisah kalimat-kalimat dalam Firman tersebut supaya kita mendapat gambaran yang jelas dari maksud TUHAN melalui FirmanNya.
  1. Ayat 1: Abram diperintahkan TUHAN untuk pergi dari negerinya menuju ke tanah yang dijanjikan.
  2. Ayat 2a : Abram akan dibuat menjadi bangsa yang besar, namanya akan dibuat termasyur.
  3. Ayat 2b : Abram akan diberkati dan akan menjadi berkat. (menjadi berkat bagi siapa? Ayat 2b tidak menjelaskan tetapi di ayat 3 dijelaskan siapa yang mendapat berkat TUHAN melalui Abram)
  4. Ayat 3 : Orang yang memberkati Abram akan diberkati TUHAN, orang yang mengutuk Abram akan dikutuk TUHAN  dan hal ini berlaku bagi seluruh kaum di muka bumi.
Hanya saja sampai kapan konsep berkat dan kutuk melalui Abram itu berlaku bagi semua bangsa tidak dijelaskan dengan gamblang. Apakah hanya berlaku pada saat Abram hidup atau berlaku seterusnya sampai sekarang. Tapi pada kenyataannya bahwa kemasyuran nama Abram sebagai bangsa yang besar dan yang diberkati, sebagai bagian dari konsep tersebut, tidak saja bergema pada masa itu saja tetapi masih bergema diseluruh bumi sampai pada hari ini. Maka dapat disimpulkan bahwa janji tersebut berlaku jauh sampai pada masa sesudah Abram.

Kembali pada masa itu, mengenai orang-orang yang hidup di masa Abram, yaitu bangsa-bangsa yang tinggal di tanah Kanaan di sekitar Abram (bangsa Kanaan, bangsa Het, bangsa Amori, bangsa Feris, bangsa Hewi, bangsa Yebus), Firman TUHAN menyebutkan bahwa mereka hanya memiliki 2 pilihan, yaitu memberkati Abram atau mengutuk Abram (Kej.12:3).
Bagaimana dengan pilihan ke-3? Ada atau tidak? Misalnya sikap netral, tidak mengutuk tapi juga tidak memberkati Abram?

Untuk menjawab hal itu, kita kembali kepada tujuan Abram dan keturunannya datang ke tanah Kanaan yang didiami oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu untuk menguasai tanah Kanaan, sehingga tidak mungkin bagi bangsa-bangsa di sana untuk bersikap netral. Bagi mereka hanya ada 2 pilihan: melawan atau menyerahkan tanahnya dengan sukarela. Melawan berarti ada dalam posisi memusuhi (mengutuk), menyerah dengan sukarela berarti ada dalam posisi menjadi sekutu (memberkati).
Banyak contoh yang dipaparkan Alkitab bagaimana bangsa-bangsa yang memusuhi bangsa keturunan Abram kemudian dihukum TUHAN. Puncak dari kehidupan dosa mereka adalah penolakan terhadap keturunan Abram (Kej.15:14-16).

Dunia pada masa Abram bagaikan bayangan dunia kita sekarang. Abram sebagai gambaran dari Kristus sedangkan kita sebagai orang-orang Kanaan, yaitu orang-orang yang tidak mengenal Allah sebelumnya. Demikian juga kita pada masa sekarang diperhadapkan pada DUA pilihan; mengutuk Kristus atau memberkati Kristus.
Dalam Mat.12:30 Yesus mengatakan bahwa siapa yang tidak bersama-Nya berarti melawan Dia. Dalam hal ini juga tidak ada posisi netral. Bagaimana mungkin ada posisi netral ketika Kristus datang ke dunia ini untuk ‘merebut’ hidup kita menjadi milik-Nya, dari gelap kepada terang.
Namun menjadi seseorang yang beragama Kristen tidak otomatis menjadi orang yang menerima Kristus. Ukuran menerima Kristus hanya satu yaitu hidup selaras dengan kehendak Bapa-Nya. (Mat.13:50).
Apakah kita mau menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya dengan sukarela atau kita menolaknya dan tetap menguasai hidup kita untuk diri sendiri dalam dosa, terserah Anda menentukannya, namun yang jelas dalam hal ini tidak ada pilihan ketiga, tidak ada alternatif lain.
Dalam Kristus ada pengampunan, masa depan, dan damai sejahtera. Di luar Kristus Anda sendirian menjalani hidup yang sementara ini dengan kekuatanmu sendiri, sangat melelahkan.
Sekarang di hadapan kita ada dua pilihan, menerima Yesus atau menolak Yesus. Menerima berarti tidak dihukum dan diselamatkan atau menolak yang berarti dihukum Allah. Ingatlah TIDAK ADA PILIHAN KETIGA.




sumber gambar: www.123rf.com

Hati Nurani Babel Sudah Mati

Posted by Unknown 13.05, under | No comments



Dalam kitab Kejadian dari pasal 3 sampai pasal 11 ini, ada banyak kota yang dibangun oleh anak-anak manusia, namun hanya ada satu kota yang mendapat perhatian khusus dari TUHAN, yaitu kota Babel.
Kalau kita sedikit meneliti perbedaan antara kota Babel dan kota-kota lain sebelum Babel adalah adanya menara di tengah kota Babel sementara kota lain sebelum Babel tidak memiliki menara seperti Babel, misalnya kota yang dibangun oleh Kain. Lalu mengapa Babel dibubarkan TUHAN sementara kota lain tidak?

Tidak banyak referensi dalam Alkitab mengenai Babel. Satu-dua ayat yang menyinggung Babel ada di kitab PL dan PB, namun yang menarik baik PL maupun PB memiliki dua tema yang sama mengenai Babel, yaitu penyembahan berhala / perzinahan rohani dan kekerasan.

Memang antara jaman Nimrod dan jaman Nabi-nabi Israel penulis kitab PL dan PB ada gap waktu yang cukup panjang, namun semua kebiasaan orang Babel yang disebut di dalam kitab para nabi tentunya bukan muncul secara tiba-tiba, ia telah berproses jauh-jauh hari. Sangat mungkin telah muncul ratusan tahun sebelumnya. Misalnya, 2Raj.17:30 menyebut orang Babel menyembah dewa Sukot-Benot, Yer.51:44 menyebut di Babel ada dewa Bel, Yeh.17:20 menyebut Babel yang tidak setia, Yeh.23:17 Babel yang menajiskan diri dengan perzinahan dan pelacuran, Daniel 3:1 menceritakan patung Nebukadnezar yang disembah rakyat Babel, Maz.87:4 menyandingkan Rahab dan Babel dalam satu kalimat, Maz.137:8 menyebut Babel suka melakukan kekerasan, Yes.21:9 menyebut Babel yang melakukan penyembahan berhala.
Dalam PB juga menyebut sebuah kota yang bernama Babel dengan tema perzinahan dan pelacuran, misalnya Wah.14:8; 17:5.

Jadi sangat mungkin pada saat Babel beserta menaranya dibangun oleh Nimrod, manusia paling kuat saat itu, kota dan menara tersebut dibangun dengan tujuan untuk penyembahan berhala dan usaha dominasi kelompok Nimrod terhadap manusia lain. Itulah sebabnya TUHAN bertindak menghentikan pembangunan Babel dan menyerakkan populasi saat itu.

Lalu mengapa TUHAN hanya menghentikan Babel? Bukankah setelah itu tetap saja muncul kota-kota yang seperti Babel, misal Niniwe dll? Bahkan Babel sendiri tetap diteruskan pembangunannya setelah pernah dicegah oleh TUHAN sebelumnya.

Dari pasal-pasal sebelumnya terlihat pola TUHAN dalam usahaNya mencegah kejatuhan manusia. Dimulai dari Adam, TUHAN sudah memberi peringatan beserta sanksi untuk mencegah dosa ketidaktaatan yang pertama. Kemudian di era Kain, TUHAN juga memberi peringatan kepada Kain untuk tidak berbuat dosa pembunuhan yang pertama. Demikian juga di masa Nimrod, TUHAN mencegah dosa penyembahan berhala dan kekerasan dengan menggagalkan rencana Nimrod membangun Babel. Namun kalau mereka tetap berkeras melakukannya maka TUHAN barangkali dengan berat hati mendiamkan manusia melakukan dosa yang diingini hatinya tersebut, tentunya sambil menjalankan rancangan penyelamatan untuk manusia.
Di masa sekarang pun kita juga mengalami hal yang sama walaupun dengan cara yang sedikit berbeda.
Dulu waktu saya hendak melakukan dosa, entah dosa pencurian atau pun perzinahan, kekerasan, kemabukan, atau penipuan, rasanya berat sekali melakukan untuk yang pertama kali (... banyak banget dosa saya ya... parah-parah lagi...), hati kecil ini menolak dengan keras, mencoba untuk mencegah saya. Namun semakin dilawan maka hati nurani yang menentang tadi semakin lirih suaranya dan akhirnya diam. Sehingga untuk berbuat dosa pencurian atau perzinahan yang kedua, ketiga dan seterusnya sudah tidak ada beban lagi di dalam hati saya.
Demikianlah cara kerja Tuhan secara umum bagi manusia. Hati nurani yang murni adalah peringatan awal dari Tuhan. Ia mengingatkan kita ketika kita berniat untuk melakukan dosa. Tidak tepat jika kita terus menerus mengeraskan hati.
Mengambil jalan pulang kembali kepada Tuhan adalah keputusan yang tepat seperti halnya Niniwe di masa Yunus yang mengambil keputusan untuk kembali kepada TUHAN selagi pintu anugerah masih terbuka. TUHAN penuh pengampunan, apapun bentuk dosa kita, baik dosa yang tidak parah atau dosa yang parah sekalipun, IA tetap mampu menghapusnya dari ingatanNya.


Baptisan Selam ala YAHWEH

Posted by Unknown 23.55, under | 2 comments






Setelah dua bulan lebih saya tidak berbuat apa-apa selain sibuk mencari sesuap nasi, hari ini ada  kesempatan (atau barangkali lebih tepatnya diada-adain kesempatan :) ) untuk menuliskan dokumentasi pribadi di Blog Obrolan Kristen ini. Walaupun tulisan ini saya pasang di blog, tetap saja ini dokumentasi pribadi saya, hanya saja boleh dibaca siapa pun yang ada waktu untuk membacanya, termasuk Anda yang saat ini sedang membacanya.


Dua bulan lalu saya sampai pada Kejadian 6:9 di mana saya Belajar Menyesal Seperti TUHAN Juga Menyesal.

Sekarang bacaan saya sampai di Kitab Kejadian 6:9-9:17 mengenai Peristiwa Air Bah.
Banyak hal-hal sulit yang membuat saya tidak mampu  untuk menjawab berbagai pertanyaan menyangkut peristiwa Air Bah, misalnya apakah Bahtera itu betul-betul mampu memuat seluruh binatang darat dan segala jenis burung yang ada? Mengingat di Bumi ini sekarang ada ribuan spesies binatang dari berbagai habitat. Dan seperti diketahui tidak semua binatang sanggup berpindah habitat. Pun seandainya Bahtera benar-benar mampu memuat seluruh spesies dan semua binatang sanggup menyesuaikan diri dari habitatnya yang asli di alam liar, entah alam tropis atau sub-tropis, ke habitat baru (kandang dalam Bahtera) lalu bagaimana Nuh memberi makan sekian banyak binatang dalam Bahtera selama 1 tahun lebih, mengingat ruang dalam Bahtera yang terbatas untuk membawa logistik selama itu. Bagaimana sistem sanitasinya agar para penumpang Bahtera, baik binatang maupun manusia tidak terkena penyakit? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang barangkali masih banyak lagi yang tidak mampu saya jawab.

Namun pertanyaan yang lebih penting barangkali adalah Mengapa TUHAN memberikan catatan yang tidak lengkap dengan tidak menceritakan peristiwa Air Bah secara detail?

Dulu ketika saya hendak menyerahkan tugas guru dalam bentuk print-out, dengan alasan penghematan, saya berusaha agar jumlah halaman yang harus saya print tidak lebih dari 10 lembar. Ketikan tugas saya akan saya edit sedemikian sehingga jumlahnya tidak lebih dari 10 lembar. Yaitu dengan cara kata-kata yang tidak perlu saya hapus, data-data yang bagi saya tidak penting juga saya hapus selama tidak mempengaruhi kejelasan maksud tulisan saya. Karena sering kata-kata yang tidak perlu justru bisa mengaburkan maksud tulisan tugas tersebut.

Demikian juga TUHAN tidak menyertakan tulisan atau data-data yang bagi TUHAN tidak penting agar jumlah halaman Alkitab tidak lebih dari 1.392 halaman, misalnya. Bisa dibayangkan berapa juta halaman yang dibutuhkan jika semua peristiwa Penciptaan sampai Akhir Jaman ditulis secara mendetail. Maka adalah masuk akal jika kemudian TUHAN membuang data-data yang tidak penting untuk merampingkan Alkitab selama tidak mengaburkan maksud TUHAN menulis Alkitab.

TUHAN menghapus atau tidak menyertakan detail peristiwa Air Bah yang mungkin penting bagi saya namun bagi TUHAN tidak penting untuk saya ketahui.
Ada hal lebih penting yang bisa saya gali dari Alkitab dengan ‘apa adanya’ Alkitab tersebut.

Alasan kedua mengapa saya merasa tidak tertarik menggali perkara-perkara sulit seperti di atas adalah hal-hal sulit tersebut jika saya kejar tidak memberi kontribusi positif terhadap iman saya, justru bisa menggoyahkan iman. (Roma12:3)

Lalu apa yang dapat saya pelajari dari peristiwa Air Bah?

I.                   Latar Belakang Air Bah
-          Nuh:
·         Tidak bercela di antara orang-orang sejamannya
·         Hidup bergaul dengan Allah
·         Memiliki 1 isteri, 3 anak laki2 dan 3 menantu perempuan.
-          Bumi:
·         Rusak di hadapan Allah
·         Penuh kekerasan
-          Alasan TUHAN mendatangkan Air Bah:
·         Allah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk di bumi karena manusia yang telah menjalankan kehidupannya yang rusak di bumi
II.                Persiapan Sebelum Datangnya Air Bah
-          Membuat Bahtera
·         Menentukan ukuran dan desain
·         Menentukan bahan2/ material2 Bahtera
-          Calon Penumpang Bahtera
·         Nuh dan keluarganya.
·         Binatang yang haram dan tidak haram.
-          Logistik yang harus dibawa kedalam Bahtera
·         Segala yang dapat dimakan oleh manusia dan binatang yang ada di dalam Bahtera
III.             Peristiwa Selama Air Bah
-          Asal Air Bah
·         Mata air samudera raya yang terbelah.
·         Terbukanya tingkap-tingkap langit.
-          Proses dan waktu Air Bah di Bumi
·         Hujan selama 40 hari 40 malam.
·         Bumi TERBENAM penuh selama 150 hari.
-          Bagaimana Air Bah Surut
·         Dengan hembusan angin (penguapan)
·         Mata air samudera raya tertutup
·         Tingkap-tingkap langit tertutup
-          Total waktu Peristiwa Air Bah adalah 1 tahun 10 hari.
IV.             Peristiwa Setelah Air Bah
-          Mezbah yang berbau harum.
-          Janji TUHAN terhadap diri-Nya sendiri.
-          Berkat untuk Nuh dan anak-anaknya.
-          Perintah Allah kepada Nuh.
-          Janji Allah bagi Nuh, anak-anaknya, dan seluruh makhluk.

Dari kronologi tersebut, terlihat bahwa poin-poin dalam Romawi II dan III bersifat teknis sehingga bagi saya poin tersebut masuk kategori perkara sulit digali.

Poin Romawi I menjelaskan kontradiksi perilaku hidup antara Nuh dengan semua manusia di zaman itu. Nuh hidup benar dan tak bercela sedangkan seluruh manusia lainnya hidup dalam kejahatan dan kekerasan satu sama lain. Oleh karena kejahatan dan kekerasan manusia yang hidup di atas bumi saat itu maka TUHAN berkehendak untuk menghapus seluruh makhluk hidup.
 

Barangkali seperti memformat harddisk komputer yang hang dan penuh virus, kemudian booting lagi dari awal dengan sistem operasi yang baru yang bersih bebas dari virus.

Hal-hal apa saja yang di-format ulang oleh TUHAN? Dari data Alkitab saya mendapat beberapa hal yang berbeda antara jaman sebelum Air Bah dengan jaman setelahnya. Misalnya jika dahulu kehidupan di bumi dimulai dari satu keluarga yaitu keluarga Adam, setelah Air Bah, kehidupan di bumi dimulai lagi oleh keluarga Nuh, keluarga yang benar dan tak bercela. Kemudian tentang iklim, musim dan hujan, sebelum Air Bah tidak disebutkan adanya iklim musim dan hujan. Pada masa sebelum Air Bah TUHAN membasahi Bumi dengan cara mendatangkan embun yang naik dan kemudian membasahi Bumi. Kemudian mengenai makanan manusia dan binatang, sebelum Air Bah manusia dan binatang makanannya adalah tumbuhan dan biji-bijian. Setelah Air Bah,  Nuh boleh makan daging, demikian juga dengan binatang, sekarang saya melihat banyak binatang pemakan daging. Namun demikian TUHAN wanti-wanti kepada Nuh untuk tidak makan darah atau menumpahkan darah manusia, karena manusia adalah gambaran TUHAN, artinya darah yang adalah nyawa dan jiwa manusia di situlah gambar TUHAN ada. Tidak boleh dibinasakan.
Dalam darah atau jiwa ada emosi, kehendak dan kecerdasan. Jadi untuk mengukur seberapa mirip manusia dengan TUHAN-nya adalah dengan cara mengukur seberapa mirip atau selaras emosi-nya dengan emosi TUHAN-nya, seberapa mirip/selaras kehendaknya dengan kehendak TUHAN-nya dan seberapa mirip/selaras kecerdasan-nya dengan kecerdasan TUHAN-nya. Ketiga hal ini (hati, kehendak dan hikmat) oleh pendeta sering disebut manusia batiniah atau manusia sejati.
Rasanya hanya manusia Yesus yang hati-nya selaras dengan hati Bapa, kehendak-nya selaras dengan kehendak Bapa, dan hikmat-nya selaras dengan hikmat Bapa.


Jika saya menggunakan istilah diformat ulang (re-formatted) bagi peristiwa Air Bah maka Rasul Petrus menyebut peristiwa Air Bah sebagai kiasan Baptisan (1 Pet 3:20-21). Injil Lukas 3: 3 menyebut Baptisan air adalah baptisan pertobatan dari perilaku dosa.
 

Sekarang saya melihat hubungan antara peristiwa Air Bah, kejahatan manusia, pertobatan dan Baptisan. Pada masa itu Air Bah menggambarkan keputusan TUHAN yang diawali dengan penyesalan atas kejahatan. Maksud didatangkannya Air Bah adalah untuk penghapusan kejahatan dan dimulainya kehidupan baru yang berkenan kepada TUHAN yang diwakili oleh keluarga Nuh.

Pada masa sekarang ketika kejahatan terjadi, harus timbul penyesalan, diikuti dengan baptisan pertobatan dan lahir baru, yang tujuannya adalah memiliki manusia batiniah yang baru yang segambar dengan TUHAN.

Jadi kalau boleh saya menyebut peristiwa tenggelamnya Bumi oleh Air Bah pada masa Nuh adalah Baptisan Selam ala YAHWEH kepada Bumi, anda setuju??

Belajar Menyesal Seperti TUHAN Juga Menyesal

Posted by Unknown 01.51, under | No comments



Tidak terasa bacaan saya hari ini sampai pada pasal 6 dari Kitab Kejadian. Setelah kemarin kita meng-obrol tentang pasal 1-5, sekarang kita akan meng-obrol pasl 6

Kejadian 6:1-13
 1 Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,  2 maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. 

Dalam dua ayat tersebut ada dua pihak yang disebut oleh penulis Kitab Kejadian yaitu kelompok “manusia” dan kelompok “anak-anak Allah”.
Kelompok yang disebut “manusia” ini memiliki anak-anak perempuan yang cantik-cantik, sehingga kelompok yang disebut “anak-anak Allah” mengambil sebagai isteri sesuka hati mereka siapa saja dari anak perempuan kelompok yang disebut “manusia”.
Ternyata kriteria memiliki isteri dalam berkeluarga bagi kelompok “anak-anak Allah” ini adalah hanya SIAPA SAJA YANG DISUKAI. Tidak dijelaskan dalam Kitab ini mengenai persoalan pokok dalam membina sebuah lembaga pernikahan tentang: 1) Siapa calon isteri, 2) Berapa banyak jumlah isteri yang bisa diambil, dan 3) Berapa lama seorang perempuan harus dijadikan isteri. Mengingat satu-satunya standar yang dipakai untuk menjadikan isteri adalah SIAPA SAJA YANG DISUKAI, maka persoalan “Siapa calon isteri” jelas bisa siapa saja; bisa janda, bisa gadis, bisa sangat muda, sangat tua, bisa isteri orang sekalipun, yang penting SIAPA SAJA YANG DISUKAI. Kedua persoalan “Berapa” juga tidak dijelaskan rinci di Kitab ini; bisa satu, bisa dua, bisa tiga, bisa empat, yang penting SIAPA SAJA YANG DISUKAI. Kemudian juga untuk persoalan berapa lama perempuan-perempuan tersebut dijadikan isteri oleh “anak-anak Allah” juga tidak dijelaskan; bisa sehari, seminggu, setahun, bisa seumur hidup, yang penting “anak-anak Allah” MASIH SUKA dan BELUM ADA PEREMPUAN CANTIK LAIN YANG DISUKAI.
Kemudian respon TUHAN mengenai kondisi pada ayat 3 ini adalah:

3 Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." 

Tentu saja kita setuju dengan TUHAN bahwa perilaku yang ditunjukan “anak-anak Allah” di atas jelas perilaku kedagingan. Nyata bahwa natur “anak-anak Allah” ini adalah daging.

4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan. 

Generasi yang dilahirkan selanjutnya adalah generasi yang superior secara fisik, memiliki kekuatan otot melebihi orang lain. Barangkali ukuran mereka seperti Goliath. Sehingga sangat wajar jika orang-orang yang secara fisik memiliki kekuatan lebih memanfaatkan kelebihannya tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka mendominasi orang lain secara fisik. (ay. 11) Dalam tatanan dunia saat itu tentu saja belum ada hukum  bagi masyarakat seperti hukum saat ini. Hukum rimba barangkali menjadi hukum yang paling umum pada saat itu, siapa kuat dia yang berkuasa.  Sehingga mereka disebut orang-orang gagah perkasa dan kenamaan.
Dari serangkaian perilaku-perilaku tersebut, rakus-seksual dan kekerasan, maka munculah ayat 5


5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, 


Perhatikan baik-baik bahwa sejak ayat 5 ini maka sebutan “anak-anak Allah” sudah tidak ada lagi. Kemana masyarakat “anak-anak Allah” ini? Agaknya mereka telah menjadi sama dalam hal perilaku dan membaur dengan masyarakat “manusia” sehingga tidak ada lagi beda antara masyarakat “anak-anak Allah” dengan masyarakat “manusia”. Oleh sebab itu ayat 5 hanya menyebut “manusia” bagi mereka semua, baik masyarakat “manusia” maupun masyarakat yang dulunya adalah “anak-anak Allah”. 


6 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. 
7 Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." 
8 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.
9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.  10 Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet.  11 Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.  12 Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.  13 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi

Ternyata di ayat 6 ada dua respon TUHAN yang ditulis: 1) TUHAN menyesal 2) TUHAN pilu hati-Nya.
Dari dua respon TUHAN tersebut kita melihat sisi lain dari sifat TUHAN Allah kita. Kalau kemarin dalam pasal 1 Kitab Kejadian kita meliha sisi kemahakuasaan Allah, sekarang kita melihat sisi emosi / perasaan TUHAN Allah kita.
Lha, kok TUHAN bisa emosi, menyesal, dan pilu? Kok mirip manusia banget ya? Apa TUHAN jangan-jangan manusia juga?
Tentu saja TUHAN bisa memiliki perasaan-perasaan seperti kita. Bukankah kita ini gambar-Nya.
Tetapi bukan berarti Si Gambaran ( yaitu manusia) dan Sang Gambar Asli ( yaitu TUHAN ) menjadi sama persis. Contohnya dalam hal kuasa; TUHAN memiliki kuasa untuk mencipta, kita juga punya kuasa untuk mencipta (inventing, creating, dll) namun tetap saja kuasa penciptaan kita tidak sama persis dengan kuasa penciptaan-Nya tetapi hanya gambaran dari kuasa-Nya saja.
Demikian juga dalam hal emosi. Emosi kita hanya gambaran dari emosi TUHAN. Bedanya emosi TUHAN tidak digerakan oleh kedagingan tetapi oleh KASIH karena natur TUHAN adalah KASIH, sedangkan natur manusia adalah daging. Kasih Allah nampak dari sini adalah bagaimana TUHAN berusaha membebaskan bumi dari dosa dengan membinasakan yang jahat namun memberi karunia kepada yang berperilaku benar, yaitu Nuh dan keluarganya.
Dalam hal ini kita belajar dari sisi perasaan TUHAN yaitu respon positif terhadap dosa adalah harus timbul perasan penyesalan.
Penyesalan dari sisi manusia akan membawa kepada pertobatan, sedangkan dari sisi TUHAN akan membawa kepada penghukuman kepada barang siapa – termasuk kita anak-anak Allah sekalipun – yang berperilaku kedagingan.
Jangan sampai kita membuat TUHAN menyesal telah menciptakan kita karena dosa-dosa kita. Jadi sebelum TUHAN menyesal terhadap kita, alangkah baiknya jika kita lebih dahulu menyesal terhadap dosa-dosa kita dan menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan.






Anak hamil di luar nikah, apa yang sesunguhnya terjadi?

Posted by Unknown 16.29, under | 1 comment


Dua bulan yang lalu saya mendengar kabar anak perempuan tetangga saya yang baru duduk di bangku kelas VII (1 SMP) terpaksa harus keluar sekolah untuk menikah karena pergaulan bebas. Dalam pergaulan kesehariannya ia memiliki cukup banyak kawan. Dalam kelompoknya mayoritas adalah laki-laki, meskipun terdapat beberap perempuan juga. Agaknya kelompok ini membawa anak gadis itu dalam pergaulan bebas yang menjerumuskannya dalam kesulitan sekarang ini.

Kami cukup prihatin sekali rasanya waktu mendengar kabar tersebut.

Pertanyaan yang timbul di hati saya saat itu adalah: mengapa hal itu bisa terjadi?

Dari sepengetahuan saya kedua orangtuanya sangat sibuk untuk mencari nafkah. Ibunya berangkat pagi jam 06.00 pulang jam 19.00 untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di beberapa keluarga sekaligus. Ketika ia sampai di rumah, energinya sudah habis untuk bekerja, tidak ada lagi sisa energi buat anak-anaknya. Sedangkan si Bapak kerja sebagai cleaning service di sebuah sekolahan. Setelah pulang bekerja si Bapak sibuk dengan dunianya sendiri, dengan hobinya memelihara burung, jalan-jalan dengan motor matic kreditan, mampir ke sana kemari. Sepertinya ia sangat menikmati hidupnya untuk kepuasan dirinya sendiri, mungkin itu ya yang dimaksud  pepatah ‘masa kecil kurang bahagia’?

Akibatnya si anak yang tidak memperoleh cukup perhatian dan didikan rohani, saat ia keluar dan meng-explore dunia tanpa pengawasan dan tanpa bekal Firman, gampang sekali menjadi korban sistem dunia yang rusak ini.

Lalu pelajaran apa yang kita petik dari kejadian di atas?

Kebetulan bacaan saya hari ini sampai di Kitab Kejadian 4:17-5:32 tentang anak keturunan Kain (4:17-24) dan anak keturunan Adam (4:25-5:32).

Kelompok pertama yang dibahas oleh Kitab Kejadian 4:17 ini adalah kelompok Kain, yaitu manusia pertama yang dikutuk TUHAN. Kita tentunya masih ingat dalam tulisan saya beberapa minggu yang lalu tentang persembahan Kain (kalau anda lupa bisa klik link tersebut untuk membacanya lagi) dan natur berdosa Kain yang tidak mampu ditaklukan Kain sehingga ia melampiaskan kemarahannya dengan membunuh Habel.



Setelah membunuh Habel, Kain pergi ke tanah Nod dan membuat sebuah komunitas sendiri terpisah dari komunitas Adam.

Saya mencoba menggambarkan perbedaan dua komunitas ini dengan menyusunnya dalam sebuah tabel di bawah ini menurut narasi Alkitab.

Perilaku Kain dan keturunannya
Kain:
Pelaku dosa pembunuhan pertama dan membangun sistem kota dan tentu saja sistem kota akan menjadi cikal bakal sistem dunia

Lamekh: 
Pelopor sistem polygami dan pelaku dosa pembunuhan kedua

Yabal: 
Dalam bidang ekonomi ia membuat sistem peternakan yang lebih modern dari pada Habel yang dianut oleh semua manusia pada saat itu, sehingga ia disebut bapa orang yang memelihara ternak.

Yubal:
Ia membangun sistem seni budaya yang tentu saja akan melengkapi sistem peradaban dunia yang dibangun Kain.

Tubal-Kain:
Sistem peradaban dunia tidak akan lengkap jika teknologi pengolahan logam tidak dikembangkan. Teknologi pengolahan logam merupakan cikal bakal sistem industri. Sisi ini dikembangkan oleh Tubal-Kain 

Naama:
Perempuan ini tidak dijelaskan peranannya dalam sistem dunia yang sedang dibangun Kain dan keturunannya, namun agaknya namanya cukup mengemuka pada saat itu, sehingga penulis Kitab Kejadian merasa perlu mencantumkan namanya. Kemungkinan besar ia mengemuka karena kecantikannya (Kej.6:2). Memang harus diakui sebuah sistem dunia pasti terkait dengan wanita di dalamnya. Bukannya saya bersifat sinis terhadap perempuan. Saya hanya sedang mencari keterkaitan yang paling mungkin di antara hal-hal di atas. Masih banyak kok wanita cantik yang baik hati dan tidak sombong..:)

Perilaku Adam dan Keturunannya

Adam:
Ia membuat seruan iman ketika kelahiran Kain dan Set (Kej.4:1 dan Kej.4:25)

Habel:
Membuat mezbah korban persembahan yang terbaik bagi TUHAN

Enos:
Pada masanya lah orang mulai memanggil nama TUHAN. Ia mempelopori pengenalan akan TUHAN.

Henokh:
Hidup bergaul dengan TUHAN dan akhirnya diangkat TUHAN.

Lamekh:
Ia membuat nubuatan terkait kelahiran Nuh anaknya, sebagai cerminan iman dan pengenalannya akan TUHAN.

Nuh:
Hidup bergaul dengan TUHAN seperti halnya Henokh (Kej.6:9), ia juga mendirikan mezbah doa dan korban persembahan kepada TUHAN (Kej.8:20)

Sekarang kita mengerti perbedaan besar dua komunitas ini.
Ternyata Kain dan keturunannya sibuk membangun sebuah sistem dunia yang di  dalamnya ada perilaku hawa nafsu sexual dan kekerasan yang dkerjakan oleh Lamekh, sistem ekonomi, budaya, science dan teknologi yang dibangun oleh anak-anak Lamekh.

Sedangkan Adam dan keturunannya walapun mereka tetap bekerja mencari nafkah dengan berternak dan mengolah tanah (Kej.5:29) namun prioritas utama mereka adalah membuat sebuah sistem ibadah kepada TUHAN yang berdasarkan iman, pengenalan akan TUHAN, intimacy, doa dan korban persembahan. Tidak berlebihan jika kemudian Lukas dalam kitab yang ditulisnya menyebut daftar keturunan ini sebagai anak-anak Allah ( Luk.3:23-38). Bandingkan juga dengan Kejadian 6:1 dan 2.

Inilah yang sekarang terjadi dalam dunia yang kita diami saat ini. Ada sekelompok orang yang hidupnya tenggelam dalam sistem dunia ini, baik dalam hal perilaku rakus-sexual (polygami, perkosaan, kawin-cerai dll), kekerasan fisik, cinta uang, dan ketamakan. Hal-hal yang abnormal bisa dianggap normal karena tuntutan sistem dunia (ada sebuah kalimat dalam bahasa Jawa yang berbunyi saiki jaman edan, nek ora ngedan ora keduman ~ sekarang jaman gila kalau ngga ikut gila-gilaan ngga dapat keuntungan apa-apa).

Namun ada pula kelompok kedua yang fokus utama hidupnya adalah untuk membangun ibadah kepada Allah yang berdasarkan iman, pengenalan akan TUHAN, hubungan pribadi dengan TUHAN, doa, dan korban ucapan syukur setiap hari.

Karena... semua itu dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, tetapi  Bapamu yang di Sorga  tahu kamu memerlukan semua itu, oleh karena itu wahai kamu anak-anakKU...carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya... maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu!

Kristus telah memberi penghiburan yang sejati kepada anak-anak Allah yang memiliki prioritas hidup benar, mereka tidak akan berkekurangan hal materi walaupun prioritas hidup mereka pada hal-hal rohani, karena ada jaminan dari Bapa yang mengerti akan setiap kebutuhan hidup anak-anakNya.

Jadi sekarang, manakah yang akan kita bangun menjadi prioritas hidup kita? Sistem dunia atau sistem kehidupan ibadah kepada TUHAN?