Kutuk: Masihkah Ada Dalam Diri Orang Kristen?

Posted by CapungLaut 08.39, under |

 Ular, Adam, dan Hawa dimarahi TUHAN

Akhir tahun 2008 saya pernah ikut retreat encounter di daerah Kaliurang Jogjakarta. Di sana kami diberi tahu bahwa setiap orang pasti memiliki 'kutuk', baik berasal dari dirinya sendiri maupun berasal dari nenek moyang kami. Kemudian kami didoakan supaya 'kutuk' yang ada pada kami dipatahkan. Ketika kami tengah didoakan, tiba-tiba ada beberapa diantara kami yang jatuh menggelepar, muntah-muntah dan ada yang berbahasa roh. Suasana jadi agak sedikit mistis dan hiruk-pikuk.

Sepulang dari retreat tersebut justru timbul berbagai pertanyaan dalam diri saya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membebani saya hingga akhirnya saya mencari jawaban di Alkitab. Hal kedua yang mendorong saya untuk menggali persoalan kutuk adalah kehidupan pribadi saya yang penuh dosa. Apakah Tuhan mengampuni saya? Sejauh apa pengampunanNya? Apakah pengampunanNya hanya menjamin kehidupan kekal saja, sedangkan kehidupan sekarang tetap berada dalam kutuk dosa?

Karena ayat yang terambil untuk menjelaskan kutuk adalah dari kitab Ulangan beberapa pasal antara lain pasal 5, 11, dan 30 dan Kejadian pasal 3 dan 4 oleh sebab itu saya belajar melihat poin-poin penting dalam Kitab-kitab tersebut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting seputar kutuk.

Sebelum kita belajar mengenai kutuk ada baiknya kalau kita belajar mengenai aturan Dasar Hukum Taurat bagi orang Kristen/ orang percaya Yesus.

Dasar ayat :



Mat 5:17  "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Mat 5:18  Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Mat 5:19  Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.


Jadisemua aturan Hukum Taurat  harus dilakukan dan diajarkan (misal kepada anak, saudara, tetangga, jemaat dll) selama belum digenapi Yesus. Kalau aturan Hukum Taurat sudah digenapi tidak perlu lagi dilakukan apalagi diajarkan supaya orang lain melakukan.
 
Contoh Hukum Taurat yang sudah digenapi Yesus:

1
. Sunat : Rom 4:11, Rom_2:29 Penjelasan singkat sbb: alat reproduksi laki2 adalah simbolisasi dari keinginan manusia. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa Hati adalah sumber keinginan manusia. Maka Keinginan tidak boleh diumbar tapi harus 'disunat' walaupun sakit dan berdarah-darah. Mengasihi orang yang menjengkelkan, mengalah & mengampuni rasanya juga sakit dan berdarah-darah. Yesus menggenapi sunat Hukum Taurat dengan mengampuni dosa, dibaptis air dan Roh Kudus di sungai Yordan dan senantiasa dalam pimpinan Roh Kudus (Mat.3:14-4:1; Luk.4:1 & 14) Karena tanpa Roh Kudus orang percaya tidak mampu mengampuni & menyalibkan kedagingannya
2. Korban Sembelihan : Mar_12:33, Ibr_10:6 Ibr 10:8. Yoh 3:16 Allah menebus dunia dasarnya adalah kasih. Ibr 10:12 hanya satu korban saja / untuk selama-lamanya (Ef.5:2) 1 Pet 4:8  Semakin sempurna kasih itu semakin banyak dosa yang bisa ditutupi. Hanya Yesus yang memiliki kasih yang sempurna. Kasih Yesus yg sempurna itu tlh dengan sempurna menutupi dosa yang terjahat sekali pun. Yesus menggenapi korban sembelihan Hukum Taurat dengan jalan menjadi korban penebus dosa di atas kayu salib karena kasih.


Lalu bagaimana dengan kutuk? Sekarang kita akan mulai belajar bersama-sama mengenai kutuk.

3. Kutuk
Dasar Ayat yang digunakan Pengajaran Kutuk: Ulangan 28 dan Kej.3 - 4
Dampak kutuk pada aspek kehidupan:
  • Individu 
  • Sosial: keluarga dan masyarakat, kehancuran keluarga 
  •  Kesehatan: sakit penyakit 
  •  Kehancuran ekonomi 
  •  Kebinasaan kekal
       Siapa yang mengutuk?

Gen 3:14  Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.Gen 3:15  Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.Gen 3:16 Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." Gen 3:17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: Gen 3:18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; Gen 3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Pada kitab Kej 3:14 , yang mengutuk adalah TUHAN. Kalau yang mengutuk TUHAN maka siapa yang dapat mematahkan kutuk dari TUHAN? Tidak ada! Kecuali TUHAN sendiri, bukan?
Ketika manusia jatuh dalam dosa Alkitab mencatat TUHAN mengeluarkan 2 kata 'terkutuklah' yang masing-masing ditujukan kepada ular dan tanah. Tidak tertulis bahwa kata-kata kutuk ditujukan kepada Hawa dan Adam. Namun baru pada Kej 4:11 kata 'terkutuklah' ditujukan langsung kepada Kain. Artinya baru pada Kejadian 4 ada manusia yang hidupnya di bawah kutuk TUHAN, yaitu Kain. Bagaimana dengan Adam dan Hawa, apakah mereka manusia terkutuk? Alkitab tidak mencatat demikian, bahkan TUHAN menubuatkan bahwa keturunan mereka akan menghukum ular, yaitu dari jalur Set. 
Bagaimana kalau yang mengutuk iblis / manusia. Lihat kitab Am 26:2 dan Maz 109:28? Selama kita tidak meninggalkan TUHAN kutuk tersebut ada tidak ada kuasanya. 

      Kembali ke Ul.28, Siapa yg dikutuk? Ul. 11:28 mencatat bahwa yang dikutuk adalah bangsa Israel, menurut Kej.3 yang dikutuk adalah ular dan tanah sedangkan menurut Kej. 4 yang dikutuk adalah Kain.
       Alasan Tuhan mengutuk orang Israel: Ul 11:28 karena tidak mendengarkan perintah TUHAN, menyimpang dari jalan yang diperintahkan TUHAN dan mengikuti allah lain.

Ul. 11:28  dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal.

Sedangkan menurut Kitab Kejadian 3 ular dikutuk TUHAN karena memperdaya perempuan dan tanah dikutuk TUHAN karena Adam tetap makan buah yang dilarang TUHAN untuk dimakan dan memilih mendengarkan istrinya dari pada TUHAN.

      Apakah yang menjadi tujuan kutuk? Ul. 30:1 menjelaskan apa sebenarnya tujuan kutuk TUHAN terhadap manusia.

Ul. 30:1  "Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau, Deu 30:2  dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,
Ul. 30:3  maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau.

Ternyata tujuan kutuk adalah supaya manusia / bangsa Israel beserta anak-anak mereka sadar dalam hati mereka, berbalik kepada TUHAN, mendengarkan suara-Nya sesuai dengan perintah-Nya dengan segenap hati dan dan segenap jiwa, maka TUHAN akan memulihkan keadaan sama seperti sebelum mereka meninggalkan TUHAN dan TUHAN akan menyayangi mereka.
Tetapi jika mereka tidak berbalik dan tetap mengeraskan hati dan hidup jauh dari TUHAN maka mereka akan tetap binasa

Ul. 28:20  TUHAN akan mendatangkan kutuk, huru-hara dan penghajaran ke antaramu dalam segala usaha yang kaukerjakan, sampai engkau punah dan binasa dengan segera karena jahat perbuatanmu, sebab engkau telah meninggalkan Aku.

      Bagaimana dengan zaman sekarang? Sesuai dengan prinsip Matius 5:17-19 tadi maka timbul pertanyaan: Apakah ayat tersebut di atas (Ulangan 28) sudah digenapi/ dilaksanakan / disempurnakan Kristus? Jawabanya kita temukan di :
Gal. 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:"Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Jadi TUHAN menyediakan jalan pertobatan yang sudah lama diingini-Nya dari manusia melalui Kristus dan IA sendiri juga yang mematahkan kutuk dg jalan menjadi kutuk bagi kita. Bagaimana dengan kenyataan orang percaya jaman sekarang masih mengalami kesulitan, kesusahan, masalah, sakit penyakit, dll. Apakah itu bukan karena kutuk?
Dalam surat Roma 8:1, Yoh.9:2-3, Wah 3:19 menyediakan jawaban pertanyaan kita di atas.
Jadi sakit penyakit, masalah dll yang ada pada orang percaya bukan kutuk dosa, tetapi Bapa hendak menyatakan kasih-Nya, dengan menegur dan menghajar anak supaya si anak menjadi pribadi yang lebih baik di mata Bapa bukan supaya si anak binasa.

Anak Allah di atas Kayu Salib sedang Menanggung Kutuk Saya dan Saudara

Lalu bagaimana supaya kutuk patah? Sesuai kata Alkitab (UL. 30:3; Gal.3:13) yaitu dengan jalan bertobat dan berbalik kepada YESUS dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa.
Oleh sebab itu orang yang sudah percaya YESUS tidak perlu ditengking-tengking kutuknya supaya pergi dari orang itu karena Alkitab tidak bilang begitu kan? Lagi pula jika yang mengutuk manusia berdosa adalah TUHAN lalu siapa yang mampu mengalahkan kuasa-Nya dengan mematahkan kutuk-Nya begitu saja? Sanggupkah manusia mematahkan kutuk terhadap dirinya dan orang lain? Alasan kedua menurut saya kutuk tidak bisa ditengking walaupun oleh 100 pendeta sekaligus, sebab pematahan kutuk adalah bagian dari penebusan dan penebusan hanya sah, berkenan dan berkuasa dihadapan Bapa adalah penebusan yang dilakukan oleh Sang Anak Manusia yang tanpa cacat cela oleh dosa, yaitu YESUS. 



“Terus Mencari Kerajaan Sorga”

Posted by CapungLaut 22.47, under , |


Semenjak menikah, aktivitas hidup saya berubah cukup drastis. Dahulu masih memiliki waktu untuk bersaatteduh, tetapi sekarang sebelum tidur masih memikirkan pekerjaan, bahkan ketika bangun tidur yang pertama-tama dipikir adalah pekerjaan. Saya merasa ‘sangat sibuk’ untuk mencari nafkah sampai-sampai melupakan saat teduh bersama Tuhan. Jiwa saya mendadak kering karena jarang membaca Firman.

Kebutuhan akan Tuhan membuat saya meluangkan waktu untuk mencari Tuhan. Dan ayat yang saya pilih untuk bersaatteduh adalah Matius 6:24-34.
Firman Tuhan ini mengajarkan kepada saya untuk memilih prioritas hidup antara menyembah Allah atau menyembah Harta. Simpelnya adalah: Lebih penting mana, Allah atau Harta.

Dalam catatan Matius, Yesus berkata (dalam bahasa saya): “Manakah yg lebih penting; hidup atau makanan, tubuh atau pakaian,  maksudnya adalah manakah lebih penting,  memiliki makanan tapi kehilangan hidup atau memiliki pakaian tapi tubuh binasa? Tidak tahukah kamu bahwa hidup mu sangat berharga dihadapan Allah sehingga Ia pasti akan memelihara hidupmu dan tidak tahukah kamu bahwa tubuh mu sangat mulia dihadapan Allah sehingga Ia pasti akan mendandaninya melampaui kemuliaan raja Salamo.”
Kemudian Yesus melanjutkan (masih dalam bahasa saya): ”Orang yang tidak percaya kepada Allah memprioritaskan harta, mereka mencari kebutuhan dengan keras di sepanjang hidup mereka. Lalu, apakah manfaat kekuatiran bagi hidup mereka? Ia tidak mampu menambahkan satu jam pun pada umur mu. Tapi Allah mampu!”
“Oleh karena itu kamu, anak-anak Allah, harus memprioritaskan Kerajaan dan keadilan*-Nya, baru semua kebutuhan hidup akan ditambahkan oleh Allah.”

*Catt: pada ayat 33 LAI menggunakan kata Kebenaran tetapi sesungguhnya kata yang digunakan adalah Dikaiosune yg artinya keadilan/justice.

Lalu pertanyaan yang muncul dibenak saya adalah bagaimana mencari Kerajaan dan Keadilan Allah?


Menurut Matius untuk mencari Kerajaan Sorga adalah:

Yang pertama adalah pertobatan sungguh-sungguh. Tanpa pertobatan tidak akan sampai kepada langkah selanjutnya.  Pertobatan adalah langkah awal dalam mencari Kerjaan Allah(Mat 3:2) (Mat 4:17)  (Mat 18:3)
Kedua, Sikap selalu bergantung dan berlindung kepada Allah. Miskin dihadapan Allah atau Ptokhoi to pneumati memiliki makna bergantung dan berlindung kepada Allah.  (Mat 5:3)
Ketiga, Hidup dengan Hukum Kasih. Pada masa itu terdapat orang Farisi dan ahli Taurat yang hidup dengan hukum taurat, tetapi mereka tidak akan masuk dalam Kerajaan Allah, hanya orang-orang yang hidup dengan Hukum Kasih yang akan memiliki Kerajaan Allah. Pada masa sekarang Taurat ada dalam hati setiap manusia. Kebaikan ala manusia yang dijadikan hukum ini tidak akan membuat orang masuk Kerajaan Allah. Orang tahu bahwa membunuh itu tidak baik dari mana? Dari hatinya, karena didalam hatinya sudah ada ada hukum Taurat. Oleh karena itu hati kita harus bersih dari hukum Taurat, artinya jangankan membunuh, membenci saudara saja adalah sebuah kejahatan. Dengan Hukum Kasih, kebencian adalah dosa, sama dengan pembunuhan. Dalam hukum Taurat kebencian tidak berdosa, tetapi pembunuhan-lah yang disebut dosa (Mat 5:20)
Keempat, Mempertahankan iman sebagai anak-anak Allah ditengah dunia ini. Sejak dahulu hingga jaman akhir, penyesatan, kesesakan, aniaya dan tekanan ekonomi membuat iman mati, hanya orang-orang yang mampu mempertahankan imannya sampai pada kesudahan yang akan masuk dalam Kerajaan Allah. (Mat 13:24 , 47) 
Kelima, Terus bertumbuh dalam Tuhan hingga melampaui kapasitas, bagi kerajaan Allah. Aneh kalau ada orang yang mengaku memperioritaskan Tuhan dalam hidupnya tetapi tidak ada pertumbuhan rohani dalam hidupnya. (Mat 13:31)
Keenam, Menjadikan Tuhan sebagai harta yang  paling berharga. Sekali lagi ini berbicara masalah prioritas. (Mat 13:44)
Ketujuh, Mengampuni karena telah diampuni. Saya menyebutnya adalah Keselamatan Tingkat Lanjut karena pemahaman setelah percaya kepada Kristus (jadi orang Kristen) secara otomatis akan selamat adalah Keselamatan Tingkat Awal. Keselamatan Tingkat Lanjut adalah kesadaran bahwa kalau ia tidak mau mengampuni maka keselamatannya akan hilang. (Mat 18:23)
Kedelapan, Melayani selagi ada kesempatan. Ingat, urutannya yang pertama adalah bertobat dahulu. Jangan sampai melayani tetapi hidupnya belum bertobat.Kita juga tidak tahu sekarang jam berapa dalam hidup kita. Seandainya saya hanya dikaruniai umur pendek maka sekarang bagi saya adalah ‘jam lima sore’, sebentar lagi gelap. (Mat 20:1)
Kesembilan, Memikul salib. Kristus telah menderita karena kita, ada saatnya setiap orang percaya akan menderita karena Kristus, meskipun masing-masing orang Kristen tidak sama bobot penderitaannya, tergantung anugerah iman masing-masing  (Mat. 5:10)
Kesepuluh, Berjaga-jaga sampai Tuhan datang.  Firman Tuhan adalah minyak bagi batin kita supaya tetap bersinar memberi penerangan kepada setiap jalan hidup yang kita ambil. Oleh karena itu berjaga-jagalah dengan cara membaca, merenungkan dan mempraktekan Firman Tuhan, supaya ketika Tuhan datang Ia tidak mendapati hati kita gelap karena tidak ada Firman di dalamnya  (Mat 25:1)

Amin




Kristologi Seorang Nelayan

Posted by CapungLaut 16.44, under |

Sejak kejatuhan manusia pertama dalam dosa, konsep Anak Manusia keturunan perempuan yang akan menaklukan ular sudah diberitakan. Maka mulailah timbul pertanyaan besar dalam benak manusia siapakah Anak Manusia yang akan meremukan kepala ular. Pada masa Adam dan Hawa, mereka mengira Sang Keturunan Perempuan adalah anak-anak mereka, yaitu kalau tidak Kain. atau Habil atau Set. Hal ini terlihat dari setiap seruan iman Hawa ketika mereka melahirkan anak-anak itu, namun pada kenyataannya Alkitab bersaksi bahwa Anak Yang Dijanjikan bukan salah satu dari mereka.
Setelah kedatangan Yesus, barulah manusia mengerti siapa yang dimaksud Kitab Kejadian dengan Anak Manusia. Namun agaknya tingkat pemahaman mengenai siapa, apa dan bagaimana Anak Manusia ini berbeda-beda, sehingga timbulah pertanyaan 'abadi' diantara kita dari jaman Adam sampai jaman sekarang: "Siapa, apa dan bagaimana Anak Manusia atau Yesus itu".
Bahkan pada abad-abad setelah Yesus pertanyaan itu juga terus bergaung. Orang-orang berhikmat menyodorkan berbagai jawaban mengenai siapa sebenarnya Anak Manusia yang telah datang itu (Yesus). Dan oleh karena mereka  adalah orang-orang berhikmat, maka -seperti biasa- mereka mengklaim pendapat mereka tentang siapa Yesus adalah yang paling benar, yang lain kurang benar atau tidak benar atau bahkan sesat sama sekali.



Nabi Muhammad menulis dalam Alquran bahwa Isa adalah nabi hebat yang 100% manusia dan 0% Tuhan. Nafas utama teologi Islam adalah monotheisme, mereka tidak menerima Tuhan yang dipersekutukan atau diduakan apalagi Tuhan yang diperanakan. Selebih dari pendapat tersebut dianggap sesat / kafir.

Al Quran

 
Sedangkan Charles Taze Russel berpendapat bahwa Yesus adalah seorang malaikat utama ciptaan Tuhan yang turun menjadi manusia dan menjadi perantara antara manusia dan Tuhan, pendapat ini berdasarkan Alkitab mereka yaitu Alkitab Terjemahan Dunia Baru. Pendapat ini lebih mirip dengan Alquran dalam rangka mempertahankan doktrin monotheisme secara gampang. Seperti halnya orang bijak lainnya, ia berpendapat setiap faham yang berbeda dengan doktrin ini mereka anggap salah dan sesat.



Charles Taze Russell

Sementara orang bijak lain, yaitu Tertullian berpendapat bahwa Yesus itu adalah 100% manusia. Tapi pada saat yang bersamaan - tidak tercampur dan tidak terbagi - Yesus adalah 100% Tuhan. Pendapat ini agak sulit diterima oleh akal manusia, oleh karena itu 2 doktrin di atas yang secara prinsip base on human mind secara tegas menolak faham ini. Namun justru pendapat ini di-amin-i oleh sebagian besar kalangan Kristen.

  Tertullian

Nah, kita yang awam ini jadi bingung juga dibuatnya kan? Lalu pendapat mana yang benar? Yang masuk akal - Russell dan Alquran-  atau yang cukup sulit - Tertullian- ?
Tapi tunggu dulu, ada pertanyaan yang cukup penting juga berkaitan dengan pemahaman tentang Yesus ini, adalah; apakah pemahaman tentang Yesus (atau dalam bahasa para pendeta disebut Kristologi) berimbas pada keselamatan seseorang? Kalau tidak berimbas kepada keselamatan, ngapain dipersoalkan? Toh yang penting selamat sampai di Surga, entah bagaimana pengetahuannya dia tentang Kristus? Atau justru sebaliknya, latarbelakang Kristologi seseorang menjadi prasyarat keselamatannya? Masak iya sih, yang masuk Surga hanya orang-orang pinter? Bingung kan?
Sama, saya juga bingung... :)


Dari pada pusing-pusing dengan pendapat orang pandai dan berhikmat, mari kita dengarkan orang tidak terdidik dan sederhana, yaitu .... Peter the fisherman!!!.






Ketika ia dan teman-temannya ditanya sang Guru mengenai pemahaman orang-orang tentang Yesus (Kristologi), mereka menjawab: "Ada yang bilang engkau nabi Elia, Yohanes Pembaptis, Yeremia, atau salah satu dari nabi-nabi" (pada konteks ini yang dimaksud Petrus dengan "nabi-nabi" adalah nabi-nabi PL).
"Namun menurutku engkau adalah Sang Mesias, Sang Anak Allah Yang Hidup".(Mat. 16:13-16)


Hanya dengan jawaban yang sederhana tersebut, Peter the Fisherman disebut oleh Yesus sebagai orang yang diberkati karena memperoleh pengetahuan sedemikian dari Bapa (ayat.17), emang ada apa sih dengan jawaban Peter the Fisherman itu?

Pertama, ia telah menjawab tentang Siapa dan Apa Yesus dengan mengatakan: "engkau adalah Sang Anak Allah Yang Hidup." Bagi si Nelayan itu, Yesus adalah Anak Allah Yang Hidup, bukan anak Yusuf dan Maria. Dan agaknya pengetahuannya itu bukan base on human mind tapi base on God mind, karena terbukti banyak orang pinter saat itu -juga saat ini- tidak memiliki pengetahuan seperti yang dimiliki nelayan ini.
Dan yang kedua, si Nelayan menjawab pertanyaan Bagaimana Yesus dengan menjawab: "engkau adalah Sang Mesias".
Di masa Petrus, orang-orang Yahudi menanti-nantikan sosok yang diurapi (dipilih/dijagokan/diperkenan/diperlengkapi) oleh Yahweh, untuk menyelamatkan bangsa Israel dan menjadi Raja mereka. Kerajaan Orang Yang Diurapi ini bersifat kokoh seperti kerajaan Daud dan bersifat kekal. Agaknya menurut si nelayan, satu-satunya orang yang dipilih Yahweh yang mampu menjadi Penyelamat dan Raja Kekal adalah Anak-Nya sendiri, Yesus.


Wah ternyata gampang juga ya memahami Siapa, Apa dan Bagaimana Yesus itu, yaitu Ia adalah Anak Allah Yang Hidup yang menjadi Raja dan Penyelamat kita

Gitu  aja cukup, ga usah-usah rumit-rumit seperti pendapat orang bijak karena ternyata bijak saja tidak cukup, harus ada acceptance terhadap Yesus baru diberi pemahaman yang benar, yang berdasarkan hikmat Tuhan. Padahal penerimaan membutuhkan kerendahan hati kan, nah itu yang orang bijak tidak punya
Lihat, walaupun Yesus ga ganteng atau gagah berwibawa seperti Pangeran (seorang tukang kayu mana ada yang gagah berwibawa seperti pangeran, ya kan?) tapi Petrus memiliki kerendahan hati untuk menerima Yesus, sementara orang-orang bijak menolak Yesus. Karena dalam pandangan orang bijak ga mungkinlah Raja Besar dan Penyelamat potongan seperti tukang kayu, anak Yusuf dan Maria, seandainya orang ini hebat, ya disebut nabi aja kan cukup, atau paling banter malaikat utama juga udah terlalu 'wah' buat orang ini.

Kalau orang bijak menolak Yesus, mereka tidak menjadi orang yang diberkati  alias tidak selamat dong, karena yang disebut menerima Yesus tidak cukup seperti orang-orang bijak jaman Petrus yang menerima Yesus hanya sebagai nabi saja, tapi harus sampai kepada penerimaan bahwa Yesus adalah Sang Anak Allah Yang Hidup, Sang Mesias. Wah ternyata pemahaman tentang Kristus berkaitan -entah langsung atau tidak - dengan keselamatan ya.


Setelah merenung ini saya jadi pengen seperti nelayan yang satu ini, punya kerendahan hati, disebut orang yang diberkati oleh Yesus supaya apa yang saya perbuat, tulis dan perkatakan, bukan sekedar base on human mind but God's
Ehm...

Ngobrolin Buku "Pergi Dalam Damai Sejahtera" karya Debora K. Tioso

Posted by CapungLaut 21.12, under |


Hari ini saya baca buku karangan Debora K. Tioso yang berjudul "Pergi Dalam Damai Sejahtera". Kesan pertama sih seperti mau konseling buat orang yang hampir meninggal, tapi setelah baca-baca sampai tuntas akhirnya dapat juga point-point yang menarik untuk direnungkan.

-Semua orang pasti meninggal. Penulis buku ini memulai halaman bukunya mengenai siapa sih orang-orang yang masuk kategori hampir (pasti) meninggal. Menurut beliau mereka adalah kaum lanjut usia, orang sakit parah, pecandu narkoba, dan orang yang divonis mati oleh Pengadilan.
- Dibutuhkan pendampingan kepada orang yang hampir (pasti) meninggal. Agaknya penulis mengesampingkan kemungkinan terjadi mujizat bagi orang-orang tersebut. Penulis lebih condong untuk fokus kepada pelayanan konseling mempersiapkan iman dan kondisi psikis mereka dalam menghadapi kematian. Menurut beliau, mereka ini butuh pendampingan, penghiburan, di support imannya supaya tetap percaya akan keselamatan yang sudah dianugerahkan Yesus kepada mereka.
- Adanya tahap-tahap psikologis yang dialami orang yang hampir meninggal. Mereka juga akan mengalami gejolak psikologis perihal kenyataan yang mereka hadapi bahwa tidak lama lagi mereka akan mati, yang disebut oleh beliau sebagai fase-fase psikologis, yaitu menolak, marah, tawar-menawar,depresi, dan penerimaan. Pendapat tersebut berdasarkan penelitian ilmiah Elisabeth Kübler-Ross, M.D. penulis buku  On Death and Dying (Tentang Maut dan Kematian).
Yang menjadi bagian cukup menarik bagi saya adalah ditulis dalam buku tersebut bahwa Yesus pun mengalami 5 fase psikologis tersebut ketika menjelang kematianNya berdasarkan Injil Lukas 22:14-28. Dasar utama pendapat tersebut adalah karena Yesus adalah manusia sejati sehingga juga mengalami fase-fase tersebut. Cuma agaknya Injil Lukas tidak menceritakan siapa orang yang melakukan pendampingan kepada Yesus untuk melalui 5 fase psikologis hingga Ia sampai fase Penerimaan akan ajal-Nya.  
- Semua orang punya tanggung jawab mendampingi orang yang hampir meninggal. Nah, kalau seseorang (bukan Yesus lho..) on dying atau sekarat menjelang ajalnya, lalu siapa yang seharusnya mengambil peranan dalam pelayanan ini? Menurut beliau, pertama-tama adalah orang terdekat (keluarga; suami, istri, anak, adik, kakak, dlsb), kemudian baru gereja (aktivis jemaat, penginjil, pendeta, dlsb).
Lalu bagaimana cara pelayanannya bagi orang-orang tersebut?
- Beda fase beda cara pendampingan. Tiap fase membutuhkan penanganan secara khusus, Sebagai contoh pada fase penolakan dan isolasi dibutuhkan seseorang yang mampu berkomunikasi secara bijaksana dan lembut agar orang tersebut masuk ke fase penerimaan.
Demikaian juga dengan fase-fase lain, juga dibutuhkan pelayanan yang berbeda.
Supaya jelas baiknya baca sendiri aja ya...? Anda bisa cari aja bukunya di toko buku Kristen. Atau kalau mau beli lewat blog ini juga bisa, malah dapat discount 10% lagi, lumayankan? Tapi ongkos kirim ditanggung penumpang lho..Trus cara pemesanan gimana? Caranya kirim email pemesanan ke wbsite.owner@gmail.com. Segera setelah semua beres diurus, pasti buku sampai ke alamat anda.
Selamat membaca!

Sigmund Freud dan Kekristenan

Posted by CapungLaut 23.29, under , |


Teori dasar oedipus/elektra kompleks

Sigmund Freud dilahirkan dari keturunan Yahudi di Freiburg, Moravia, Austria-Hungaria (sekarang Republik Ceko), yang pertama dari tujuh bersaudara. Sigmund Freud adalah Psykiatris Austria dan pendiri psikoanalisis, teori psikologi paling berpengaruh di abad ke-20.
Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk pada usia lima tahun pertama seorang anak. Pengalaman awal memainkan peran besar dalam pembangunan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari.
Freud percaya bahwa kepribadian berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak selama energi yang mencari-kenikmatan dari id menjadi fokus pada daerah sensitif tertentu. Energi psikoseksual ini, atau libido, digambarkan sebagai kekuatan pendorong di balik perilaku manusia.
Selama tahap phalik, fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan pada tahap ini. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk kasih sayang ibu.  Oedipus Kompleks adalah istilah untuk menggambarkan perasaan ini, yaitu ingin memiliki ibu dan keinginan untuk menggantikan ayah. Namun, anak juga memiliki kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah oleh karena perasaan ini, rasa takut ini oleh  Freud disebut kecemasan pengebirian.
Istilah Electra kompleks digunakan untuk menggambarkan satu keadaan perasaan yang sama yang dialami oleh anak perempuan.
Akhirnya, anak mulai mengidentifikasi dirinya dengan orang tua yang sejenis kelamin, untuk memiliki bagi dirinya sendiri orang tua yang tidak sejenis kelamin dengannya.

Teori yang diterapkan ke dalam Alkitab
Freud memberikan dua contoh dari peristiwa Alkitab, untuk menerapkan teorinya: yaitu Musa dan Yesus. Tentang Musa, Freud mengklaim bahwa dia bukan orang Yahudi tetapi orang Mesir, berteman dengan suku Yahudi, membawanya keluar dari Mesir dan mengubahnya menjadi agama monoteistik, dari agama Firaun Ikhnaton, agama Aton dari dewa tunggal, dewa matahari.

Pada masa purba, laki-laki yang kuat adalah tuan dan ayah atas seluruh gerombolan / suku, kekuasaannya tanpa batas, yang digunakan dg brutal. Semua perempuan adalah miliknya, yaitu para istri dan anak-anak perempuan di sukunya sendiri serta mungkin juga yang dicuri dari suku lain. Nasib anak laki-laki sangat malang, jika mereka membangkitkan kecemburuan ayah mereka, mereka dibunuh atau dikebiri atau diusir. Mereka dipaksa untuk hidup di komunitas kecil dan mencari istri bagi diri mereka dengan mencuri dari orang lain. Salah satu atau putra lainnya mungkin berhasil dalam mencapai situasi yang sama dengan ayah dalam komunitas yg terdahulu. Satu posisi yang disukai muncul dengan cara alami: yaitu bahwa si anak bungsu, yang dilindungi oleh ibu yang mencintanya, bisa diuntungkan oleh berjalannya tahun hingga masa tua ayahnya dan menggantikannya setelah kematian ayah. Gema dari pengusiran putra tertua, dan juga posisi favorit yang termuda, tampaknya tetap hidup dalam banyak mitos dan dongeng. Langkah selanjutnya menentukan arah perubahan jenis pertama organisasi " sosial " ini,  terletak pada kemungkinan berikut: saudara-saudara yang telah diusir dan hidup bersama dalam suatu komunitas mengroyok ayah mereka, mengalahkan ayah, dan - menurut kebiasaan orang-orang saat itu - semua anak memakan  tubuh ayahnya. [1]

Penjelasan-penjelasan yang ia berikan mengenai teori Musa dan Yesus bersifat sejarah sekaligus filologis, dan bersifat psikologis sekaligus folkloristic.
Yang pertama adalah kata "Musa" atau “Moses” adalah elemen dari banyak nama Mesir, seperti, misalnya, Ramses (Ra-Mose), Mose dalam bahasa Mesir berarti anak. Oleh karena itu, Musa adalah seorang Mesir.
Kemudian, pejabaran bersifat psikologis sekaligus folkloristic yg menyatakan Musa adalah orang Mesir sebagai berikut: Dalam banyak legenda tentang asal-usul dan orang yang terkenal dari masa lalu, pahlawan senantiasa berdarah bangsawan. Sebagai anak dia dianggap sebagai ancaman bagi sang ayah. Kemudian sang anak terpaksa melarikan diri, dan diselamatkan dan dibesarkan oleh orang-orang miskin atau rakyat jelata.
Menurut legenda Yahudi, Musa lahir dari antara rakyat ras yg tertindas, dan diselamatkan dan dibesarkan oleh putri raja. Freud mengatakan bahwa legenda itu dipalsukan dan harus diperbaiki. Legenda yang benar menurut Freud adalah bahwa Musa adalah keturunan bangsawan, bahkan mungkin anak dari Putri bangsawan Mesir. Kemudian terpaksa lari karena dianggap ancaman bagi kekuasaan ayahnya. Konflik bapak-anak ini lah yang disebut Oedipus Complex, suatu gejala neurotik. Musa ini kemudian tinggal bersama rakyat yang tertindas dan menjadi pahlawan bagi mereka.

Teori agama Yahudi menurut Freud
Mengenai teori agama Musa, Freud memiliki teori sebagai berikut: bukan Musa yang berbicara tentang Allah kepada Firaun, tetapi Firaun yang mengajarkan Musa tentang Aton, allah monotestik.
Musa tidak pandai bicara, hal ini harus dipahami bahwa ia harus berbicara melalui penerjemah, bukan dengan Firaun, tetapi dengan bangsa Ibrani.
Di tengah pengembaraan bangsa Yahudi di padang gurun, mereka membunuh Musa dari Mesir ini. Selanjutnya, suku Yahudi ini bertemu dan bergabung dengan yang lain, dan sebagai bagian dari kompromi antar mereka, mereka mengadaptasi ibadah dari gunung berapi dewa Jahve, dipengaruhi oleh orang Midian Arab. Dalam upaya untuk melepaskan diri dari rasa bersalah karena telah membunuh Musa, suku ini mengangkat Musa baru – seorang Yahudi- sebagai bapak agama baru monoteis ini. Dengan cara itu, mereka hampir memenuhi teori agama pemujaan sang ayah, yang dibuat Freud sebagai dasar teorinya tentang asal-usul agama. Bagi Freud, pembunuhan ayah purba adalah 'dosa asal'.
Penyesalan karena telah membunuh Musa Mesir telah menciptakan kerinduan terhadap Mesias penebus ‘dosa asal’ di kalangan bangsa Yahudi.

Perbandingan Musa-Yesus menurut Freud
Freud kemudian membandingkan kisah Musa dengan Yesus, yang juga dikorbankan - tetapi dengan sukarela, sebagai korban simbolis penebusan kesalahan karena pembunuhan ayah purba (Musa Mesir).
Yesus, menyatakan dirinya anak tuhan, yaitu bahu yang memikul tanggung jawab atas kematian ayah purba bangsa Yahudi dan menderita hukuman yang setara untuk itu. Jadi anak-anak lain, seluruh umat manusia, dalam pikiran mereka bisa merasa diampuni oleh bapanya.
Hal ini disebut konsep katarsis Yunani, yakni pembersihan menghasilkan pengampunan. Karena tuduhan perasaan bersalah yang tumbuh telah mencengkeram orang-orang Yahudi - dan mungkin seluruh peradaban pada waktu itu - sebagai awal dari kembalinya kenangan memori yang ditekan.
Freud menemukan perbedaan yang signifikan dalam nasib Musa dan Yesus - yang pertama sebagai figur ayah, yang terakhir sebagai seorang anak. Oleh karena itu, ia melihat agama Musa sebagai dasarnya berfokus pada ayah, sedangkan Kekristenan berfokus pada anak.

Menilai teori Freud
Hubungan antara suami-isteri, orang tua-anak yang digambarkan Freud sebagai suatu gejala neurotik bisa dipahami sebagai fenomena empirik pada manusia, tetapi menurut saya tidak mewakili psikologi yang sebenarnya. Karena Freud tidak melihat hakekat manusia secara utuh.
Dari sisi teologi, dalam kaitan moralitas seksual sosial maupun individual, manusia terdiri dari daging dan roh[2]. Oleh karena itu analisa psikoseksual manusia tanpa melihat dari sisi kebutuhan kehidupan rohnya tidak mampu untuk merumuskan Psikologi yang  sebenarnya.
Karena  sebagai makhluk daging, manusia tunduk kepada kuasa dosa[3]. Jadi perilaku yang muncul kepermukaan adalah perilaku dosa. Jika perilaku daging ini dipakai sebagai dasar perumusan teori psikoseksual maka akan diperoleh setengah sisi dari manusia, sementara itu perilaku manusia roh belum dirumuskan.

Sebagaimana kasih dan seks tidak identik, begitu juga kasih dan nafsu berbeda.  Nafsu birahi bersifat eksploitatif, mementingkan diri sendiri, dan memuaskan diri sendiri. Nafsu birahi menjatuhkan manusia dalam percabulan, tidak bertanggungjawab, dan kriminal seks. Semuanya ini bertentangan dengan kasih.[4]

Manusia pada hakekatnya memiliki kehidupan roh yang membutuhkan kasih. Kebutuhan akan kasih inilah yang menggerakan seluruh perilaku manusia. Perbaikan hubungan bapak-anak secara teologis bisa diupayakan ketika masing-masing melepaskan diri dari kuasa dosa dengan pertobatan untuk menerima kasih Allah bagi dirinya. Karena pertobatanlah yang akan membuat hati bapa dan hati anak bersatu lagi[5]. Didalam kekristenan, pertobatan ini dikerjakan oleh Allah melalui sakramen baptisan Yohanes.
Dengan kata lain, pertobatan dalam baptisan Yohanes adalah sebagai jawaban persoalan yang disebut Freud sebagai Oedipus Complex.
Kemudian setelah seseorang mengalami pertobatan selanjutnya ia mengalami kehidupan yang dipimpin oleh Roh untuk menghasilkan perilaku baru yang disebut 9 buah roh. Kehidupan semacam ini dapat terjadi dikarenakan manusia memperoleh kasih secara melimpah melalui karya Allah, Anak, dan Roh dalam kehidupannya yang selanjutnya ia mengalirkan kasih ini kepada anak-anaknya, keluarga dan masyarakat.

Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
Sebelum mengenal Allah, seorang anak mencari kasih dari orang tua. Namun pada masa lampau maupun masa sekarang, seorang ayah terlalu sibuk untuk memberikan perhatian (kasih) sebesar yang ibu berikan kepada anak. Disamping itu juga kebersamaan ibu-anak lebih banyak dari pada kebersamaan ayah-anak. Maka terciptalah ketergantungan anak terhadap ibu, paling tidak dalam kebutuhan akan cinta kasih. Itulah sebabnya mengapa terjadi kecemburuan atau ketakutan anak kehilangan kasih ibu ketika diketahuinya sang ayah memiliki hubungan kasih dengan sang ibu (Oedipus Complex atau Electra Complex).
Seorang ayah yang mencurahkan kasih bersama ibu kepada anak-anaknya sejak masa kecil sang anak akan menghilangkan gejala kejiwaan ini. Karena anak tidak takut lagi kehilangan kasih ibu sebab dalam kebutuhan kehidupan rohnya akan kasih sudah terpenuhi, baik dari ayah maupun ibu. Kemudian orang tua memiliki kewajiban mengarahkan kebutuhan anak akan kasih kepada Allah, karena Allah adalah Kasih. Jadi kebutuhan manusia akan kasih adalah kebutuhan manusia akan Allah.

Jadi ketika Freud mencoba memahami Allah –yang adalah Kasih-, ia memakai dasar pemikiran yang berasal dari tabiat dosa, yaitu sexual desire bukan kasih. Jika suara dari manusia yang takluk dalam tabiat dosa didengarkan sebagai objek sekaligus subyek pemikiran akan Allah maka akan menghasilkan kekeliruan pemahaman terhadap diri Allah, Anak dan Roh sekaligus manusia itu sendiri. Bahkan untuk pribadi ke tiga dalam trinitas ini nampaknya tidak terpikirkan sama sekali oleh Freud. Jika dasar teorinya saja tidak tepat maka bangunan teori diatasnya juga ikut keliru. Tidak mengherankan jika pada kesimpulannya Freud tidak percaya kepada Allah (Ateis). Bagi Freud, Allah hanyalah proyeksi apa yang baik dari alam manusia dan agama adalah sebanding dengan neurosis masa kanak-kanak "[6]



Referensi

  1. www.kirjasto.sci.fi/freud.html, [On Line Page] Sigmund Freud (1856-1939), Petri Liukkonen dan Ari Pesonen.
  2. www.about.com, [On Line Page] Freud’s Stages of Psychosexual Development, Cherry Kendra.
  3. www.insomnium.co.uk, [On Line Page] Introduction to Sigmund Freud's Theory on Dreams, Kevin Wilson.
  4. www.stenudd.com, [On Line Page] Psychoanalysis of Myth, Stefan Stenudd
  5. www.theotokos.org.uk, [On Line Page] Christanity according to Sigmund Freud, Dr. Thevathasan Pravin
  6. www.varchive.com, [On Line Page] Sigmund Freud and Moses the Lawgiver, __
  7. www.victorianweb.org, [On Line Page] Freud’s Stages of Psychosexual Development, David B. Stevenson


[1] dikutip dari www.stenudd.com/myth/freudjung/ diakses pada tanggal 22 Mei 2010
[2] Mal.2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh?
[3] Kej 6:3-5  Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging,…bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata
Gal 5:19  Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,
[4] Dikutip dari www.sumberkristen.com
[5] Luk. 1:17 dan ia (Yohanes Pembaptis) akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya."
Mal 4:6  Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.

[6] Sigmund Freud, The Future of an  Illusion, 1927